Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Abdul Karim Abraham

Anak Muda Bali yang BEBAS

KHR.Ach.Azaim Ibrahimy, Tokoh Pemersatu Umat Muslim Bali

OPINI | 26 May 2013 | 13:17 Dibaca: 1055   Komentar: 0   1

Keberadaan Umat Islam di Bali yang minoritas, tidak diikuti dengan kesolidan internal Umat Muslim Bali. Dalam situasi mayoritas-minoritas, semestinya ikatan emosional kelompok minoritas lebih kuat ditengah tekanan kelompok mayoritas. Namun di Bali tidak demikian, Umat Muslim Bali justru berjalan masing-masing, tidak terarah dan tak bersatu.

Salah satu faktor keberadaan Umat Muslim Bali yang parsial tersebut, karena dalam sejarah perkemabngan Islam di Bali sejak lama tidak terkoordinir secara rapi. Para Tokoh penyebar Islam di Bali berjalan sendiri di masing-masing daerah. Ulama penyebar Islam di Buleleng, tidak mengenal dan tidak tahu menahu dengan keberadaan Ulama penyebar Islam di Jembrana, di Denpasar, di Karangasem dan tempat lainnya di Bali. Sehingga sejak lama, Umat Muslim di Bali tidak memiliki Tokoh internal, yang dapat mempersatukan Umat Islam seluruh Bali.

Ketiadaan Tokoh internal ini menjadikan arah perkembangan Umat Muslim di Bali berjalan sangat lambat. Sudah ratusan tahun Islam berada di Bali, eksistensi Islam di Bali belum juga menunjukkan taringnya. Jika dari sisi kuantitas sangat sulit untuk mengejar kelompok mayoritas, setidaknya jika bersatu dan terarah, semestinya bisa berkualitas dan menjadi kelompok minoritas yang berarti, bermanfaat, dan yang terpenting tidak diremehkan. Dan untuk menuju kelompok yang berkualitas  tersebut, Umat Muslim Bali sangat membutuhkan Tokoh pemersatu.

Tokoh Pesantren

Seiring berjalannya waktu, dengan semakin banyaknya angkatan Pelajar Muslim Bali pasca kemerdekaan yang menempuh studi ke Pesantren di Jawa Timur, menjadikan Tokoh pemersatu tersebut justru muncul di luar Umat Muslim Bali.

Gelombang Pelajar Muslim Bali ke Pesantren terus meningkat hingga sekarang. Dari sekian banyak Pesantren di Jawa Timur, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (P2S2) Sukorejo Situbondo, adalah tujuan utama para Pelajar Muslim Bali. Sehingga, terhitung pasca kemerdekaan sampai hari ini, ada puluhan ribu Alumni dan Simpatisan P2S2 yang tersebar di seluruh daerah di Bali. Hal ini secara tak langsung, mayoritas “Kiblat” Umat Muslim Bali terteju pada P2S2. Apa yang terjadi di P2S2, akan berefek pada konfigurasi sosial-politik Umat Muslim di Bali. Secara otomatis, satu-satunya Tokoh pemersatu Umat Muslim Bali saat ini adalah Pimpinan/Pengasuh P2S2.

Ke-Tokoh-an Pengasuh Pesantren yang didirikan sejak Tahun 1914 tersebut, terbukti dan bisa disaksikan saat wafatnya KHR.Achmad Fawaid As’ad setahun lalu. Tersiarnya kabar mangkatnya Beliau, Pelabuhan Gilimanuk langsung ramai dan terjadi antrian mendadak dipadati Umat Muslim Bali yang hendak menghadiri upacara pemakaman di Jawa. Ini membuktikan pengaruh Kyai Fawaid sebagai Pengasuh, dan tentunya sebagai Tokoh  Islam di Bali sangat terasa.

Beliau semasa hidupnya, sering kali datang ke Bali, memberi arahan, nasehat-nasehat, yang semua petuah Beliau selalu diamini oleh mayoritas Umat Muslim Bali. Namun sayang, ditengah Beliau gencar-gencarnya mempersatukan Muslim di Bali, Allah SWT memanggilnya dengan begitu mendadak, dalam usia yang masih terbilang muda. Dan semua usaha yang sudah Beliau bangun, akan terus menjadi pijakan, sampai kapanpun.

Tokoh Baru, Semangat Baru

Pengasuh P2S2 diteruskan oleh KHR.Achmad Azaim Ibrahimy, Sosok Kyai muda yang memiliki semangat tinggi, energik, dan sangat rendah hati. Sebagai Pengasuh, tentunya Beliaulah sebagai harapan satu-satunya  yang akan melanjutkan tongkat estafet Tokoh pemersatu Muslim di Bali.

Dan harapan itu terbukti, untuk pertama kalinya sejak menjadi Pengasuh, Kyai Azaim berkunjung ke Bali. Tak tanggung-tanggung, kunjungan perdana ini satu minggu full, terhitung sejak tanggal 19-25 Mei 2013. Ini menunjukkan antusiasme Beliau untuk memajukan keberadaan Islam di Bali sangatlah besar. Beliau sampai rela meninggalkan kediamannya selama seminggu, dan memenuhi segala undangan yang sangat padat selama Beliau ada di Bali.

Tak kalah antusiasnya dengan Sang Tokoh, seluruh Umat Muslim Bali sangat mengelu-ngelukan Beliau. Mulai dari penyambutan, acara dan pengawalan pada Beliau, dilakukan dan dilayani dengan sepenuh hati. Umat Muslim Bali rela meninggalkan segala aktivitasnya, hanya untuk bertemu dan medengarkan wejangan-wejangan yang sangat menyejukkan hati, menuntaskan dahaga rohani yang sempat kosong.

Dan Beliau seolah tak kenal lelah, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dari kampung ke kampung, dari Kabupaten ke Kabupaten, hampir seluruh Bali tersentuhnya. Beliaupun tak bosan-bosannya mendengarkan setiap keluhan Alumni, dan Umat Muslim Bali secara keseluruhan. Beliau Tangguh, Beliau Kuat, Konsisten, dan Beliaulah Tokoh Baru Pemersatu Umat Muslim Bali.

Banyak pesan Beliau sesaat sebelum mengahiri kunjungannya di Bali, diantaranya Pertama, Beliau berpesan kepada Alumni P2S2 untuk terus konsisten menjalankan wasiat Almarhum Kyai As’ad yaitu, memajukan Pendidikan Umat, berdakwah melalui NU, dan ikut memajukan Ekonomi masyarakat. Beliau juga mengingatkan bahwa IKSASS Alumni untuk terus bergerak dalam pemberdayaan masyarakat. IKSASS bukan hanya milik Alumni P2S2, tapi milik Umat.

Kedua, Beliau terus mendorong kepada seluruh Alumni yang ada di Bali untuk ikut terlibat dalam membangun Persatuan Umat Muslim di Bali. Jangan berpecah belah. Alumni harus menjadi pelopor dalam perkembangan Islam di Bali, baik dari sisi Kuantitas, lebih-lebih pada sisi Kualitas.

Ketiga, dalam menanggapi berbagai aliran Islam yang berwajah sangar, keras, dan kaku, Beliau berpesan kepada seluruh Umat Muslim untuk bersama-sama mengahadang dan menghalau mereka, yang selama ini telah memperburuk citra Islam di mata umat lain. Bahwa Islam yang sesuai dengan pemahaman kebangsaan kita adalah Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (ASWAJA), Islam yang berpandangan Moderat, dan berprilaku Toleran.

Dan yang Keempat, Beliau menekankan Keikhlasan dalam segala hal, terutama dalam memperjuangkan agama. Beliau mengandaikan orang Ikhlas itu seperti “darah” dalam tubuh, tidak kelihatan namun keberadaannya sangat penting bagi aktifitas pada tubuh dan kehidupan. Justru ketika “darah” terlihat, maka akan terasa sakit pada tubuh, dan menjadikan orang lain yang melihatnya khawatir dan resah. Lakukanlah sesuatu yang bermanfaat tanpa membutuhkan pengakuan orang lain. Cukup Allah saja yang mengetahuinya.

Akhirnya Sabtu malam, 25 Mei 2013, Beliau beserta rombongan bersiap meninggalkan pulau Bali. Selama di Bali, kelompok Pemuda yang tergabung dalam Askar Hafas, menjadi pengiring setia Beliau selama satu minggu. Askar Hafas menyelesaikan tugasnya di pelabuhan Gilimanuk, dalam suasana haru dan tangis, membiarkan mobil Nissan berwarna putih bernopol P 1111 HA yang ditumpangi Sang Junjungan, masuk perlahan menyusuri dermaga untuk meyeberang ke Jawa, meninggalkan Bali yang baru disinggahinya.

Dan entah kapan lagi Sang Junjungan akan mengunjungi Pulau Antah Berantah ini….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Catat, Bawaslu Tidak Pernah Merekomendasikan …

Revaputra Sugito | | 23 July 2014 | 08:29

Kado Hari Anak; Berburu Mainan Tradisional …

Arif L Hakim | | 23 July 2014 | 08:50

Jejak Digital, Perlukah Mewariskannya? …

Cucum Suminar | | 23 July 2014 | 10:58

Penting Gak Penting Ikut Asuransi Kebakaran …

Find Leilla | | 23 July 2014 | 11:53

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 5 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 5 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Membaca Efek Keputusan Prabowo …

Zulfikar Akbar | 9 jam lalu

Prabowo Lebih Mampu Atasi Kemacetan Jakarta …

Mercy | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: