Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Ruslan Karim

Jadilah diri sendiri, percaya diri, jangan takut untuk mencoba serta menulis agar menjadi luar biasa....!

[Hasil UN 2013 Terburuk Se-Indonesia] Pendidikan Aceh Dalam Gawat Darurat

REP | 28 May 2013 | 22:15 Dibaca: 954   Komentar: 2   0

13697540071241097915

Siswa SMA di Aceh yang bergembira setelah melihat pengumuman kelulusan UN (http://www.tribunnews.com/images/view/595981/siswa-sma-di-banda-aceh-rayakan-kelulusan)

‘’Di Aceh ada 1.754 siswa yang tidak lulus dari 56.000 siswa peserta UN,” ungkap Mendikbud. Apa yang disampaikan oleh pak Muhammad Nuh selaku Menteri yang membidangi pendidikan di Indonesia sangatlah memilukan. Mengapa ini bisa terjadi di Aceh yang memiliki anggaran pendidikan besar serta fasilitas dan infrastruktur sekolah yang rata-rata lebih baik dibandingkan beberapa Provinsi lain.

Anggaran pendidikan Aceh yang melimpah ternyata tidak menjamin kualitas dari para siswa. Seperti diketahui oleh publik Aceh, sejak Tahun 2011, total belanja pemerintah untuk sektor pendidikan di Aceh secara nominal terhitung sebesar Rp 4,3 triliun. Jumlah itu meningkat dua kali lipat dari tahun 2007, yang terhitung sebesar Rp 2,1 triliun. Pada tahun 2012 tercatat Rp 3,9 triliun. (kompas.com)

Bila melihat dari jumlah anggaran, sepertinya mustahil hasil UN SMA tahun 2013 di Aceh ‘’meraih” peringkat terakhir se-Indonesia (http://setkab.go.id/berita-8766-9948-persen-siswa-smama-peserta-lulus-ujian-nasional-2013-aceh-tertinggi-tidak-lulus.html). Tapi, itulah fakta yang tidak bisa dibantah. Besarnya anggaran bukan jaminan untuk mutu yang membanggakan dari para siswa. Kesalahan penyelenggaraan pendidikan di Aceh memang sangat kompleks permasalahannya. Mulai dari ‘’raibnya” dana abadi pendidikan Aceh senilai Rp 1,844 triliun menjelang pemilukada Gubernur (http://aceh.tribunnews.com/2012/09/20/dana-abadi-pendidikan-hilang-di-rekening), kualitas guru atau pengajar yang masih rendah, serta penghentian beasiswa bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di tahun ini (2013) telah menjadi potret buram yang satu sama lain ikut ‘’menyumbang” terhadap buruknya kualitas pendidikan yang didapat oleh para pelajar maupun mahasiswa.

1369754054370176863

Kesedihan yang dialami siswi SMA Aceh yang tidak lulus UN (http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/05/24/6/156471/248-Siswa-SMA-di-Aceh-Barat-tak-Lulus)

Padahal bila bernostalgia sejenak tentang masa lalu Aceh di era 1950-1970-an, banyak orang-orang luar berdatangan ke Aceh untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik daripada tempat mereka berasal. Bahkan tidak hanya dari dalam negeri, dari luar negeri pun banyak yang menimba ilmu ke Aceh, seperti warga Negara jiran Malaysia. Namun itu hanya nostalgia belaka. Kondisi pendidikan Aceh saat ini telah jauh dari cerita nostalgia tersebut. Selain itu, kondisi kini malah terbalik, yakni orang-orang Aceh yang banyak belajar di Negara yang beribukota Kuala Lumpur itu.

Kondisi ‘’ gawat darurat” pendidikan Aceh ini sangat disesalkan terjadi saat Aceh sedang dibawah kepemimpinan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf yang mana dalam kampanyenya telah menjanjikan pendidikan Aceh yang lebih baik jika mereka memimpin Aceh. Bahkan pendidikan bagi anak-anak Aceh mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi akan dibebaskan dari biaya alias gratis (poin nomor 14 dari 21 program pro-rakyat ‘Zikir’). Tampaknya kondisi ‘’kritis” pendidikan Aceh masih akan terus berlanjut bila tidak ada penanganan yang serius untuk memperbaikinya. Dalam hal ini, Pemerintah Aceh memiliki andil yang besar terhadap sukses atau tidaknya perbaikan keadaan yang sedang dialami oleh dunia pendidikan di Aceh.

Semoga Pemerintah Aceh cepat tanggap untuk menanganinya dan kita semua berharap ini merupakan ‘’petaka” terakhir yang menimpa pendidikan Aceh.

Ruslan

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: