Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Obbie Afri Gultom

Praktisi Hukum, Pengamat Politik, Penulis dan Seorang Tentara Cahaya. Menulis merupakan nafas dalam kehidupan, jika Kau selengkapnya

Menelusuri Pelaku Pengedar Surat Ritual Seks di Pusarda Bandung

REP | 29 May 2013 | 18:33 Dibaca: 910   Komentar: 5   0

1369820074927256785

Pemerintah Kota bandung geger dengan beredarnya surat perintah ritual seks bebas yang “katanya” dikeluarkan dan ditandatangani oleh Kepala Perpustakaan Arsip dan Dokumen Daerah Bandung, Muhammad Anwar. Merasa di pojokan Anwar langsung melaporkan insiden tercela tersebut ke Poltabes Daerah Bandung untuk ditindaklanjuti. Anwar menegaskan bahwa tanda tangannya telah dipalsukan dan perbuatan ini adalah fitnah yang kejam.

Unik sungguh kejadian ini, terbesik dalam benak apa tujuan si pelaku melakukan perbuatan yang tidak terpuji tersebut. Fitnah tentu saja, tapi tujuan dari “Fitnasisasi” itu apa? maka perlu ditelusuri siapa pelakunya. Namun sebelum pelakunya ditelusuri ada baiknya dibedah terlebih dahulu isi dari surat perintah bernomor 041/019-C-Kapusarda tertanggal 31 Januari 2013. Adapun 3 poin utama surat perintah tersebut sebagai berikut:

1. Ritual ini atas izin gembala sidang Gereja XX dalam misa hitam yang diadakan pada acara-acara tertentu.

2. Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA) Keperpusda No DPA : 1.24. 01.01.03.52 tanggal 1 Januari 2013

3. Surat ini untuk kepentingan dinas dan sangat rahasia.

Isi Yang pertama mengenai Izin dilakukannya Ritual seks tersebut dari Gembala Gereja XX dalam suatu misa hitam. Wow!! menurut penulis ini adalah pembunuhan karakter suatu Gereja tertentu, apa sebenarnya maksud dari pelaku?. Sejak kapan Gereja mengeluarkan izin-izin kegiatan immoral seperti itu? bahkan lembaga penyembah setan sekalipun, yang saya tahu belum pernah mengeluarkan izin seperti itu. Bagian yang terunik adalah bagaimana bisa isi surat tersebut menyatakan izin dari Sidang Gembala Gereja tertentu sedangkan yang menandatangani surat tersebut adalah Kapusarda Daerah Bandung? apakah ada koneksi tertentu antara PUSARDA Daerah Bandung dengan suatu lembaga Gereja tertentu? tentunya tidak mungkin dan tidak masuk akal.

Isi Yang kedua mengenai Anggaran Pelaksana, hal ini juga sangat konyol, sungguh unik dan kreatif namun kearah kebodohan pelaku memasukan poin mengenai anggaran melakukan ritual seks, ngomong-ngomong apakah melakukan perbuatan mesum tersebut membutuhkan anggaran? Oh I See, the Hotel,,,BTW anggarannya pasti dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Bandung 2012 bukan? jikalau begitu hebat benar ya,,

Isi Yang Ketiga yang tak kalah heboh dan kocaknya adalah penegasan bahwa surat ini adalah untuk kepentingan dinas?? sejak kapan hubungan intim pasutri dijadikan suatu yang bersifat pemerintahan resmi? apalagi berdasarkan surat tersebut ritual menjijikan tersebut dilakukan secara beramai-ramai atau yang populer dengan Orgy.

Namun ya sudahlah, terlepas dari Kekonyolan dan Kebanyolan surat “ngedeng” tersebut terbesit suatu pertanyaan di benak, siapakah pelakunya? dan apa motif disebarkan surat tersebut? melihat modus dan isi surat tersebut mudah ditebak siapa pelaku penyebar surat ritual seks tersebut, berikut ulasannya:

1. Pelaku adalah salah satu PNS yang bekerja di Perpustakaan Arsip dan Dokumen Daerah Bandung (PUSARDA) Sakit Hati Karena Konflik Tertentu

Motifnya mudah ditebak, pelaku yang merupakan salah satu PNS yang bekerja di PUSARDA tersebut merasa sakit hati atau diperlakukan semena-mena oleh atasannya, rekan sekerja atau bahkan orang-orang bawahan yang bekerja di lembaga tersebut. Namun dugaan kuat konflik yang terjadi adalah antara Pelaku dan atasannya. Mau bukti? Lihatlah bagaimana pelaku membuat sedemikian sempurna tanda tangan palsu Kepala Perpustakaan Arsip dan Dokumen Daerah Bandung dengan kesan agar surat tak senonoh tersebut merupakan inisiatif dan atau atas izin dari pimpinan perpustakaan tersebut. Mudah ditebakan bukan? bahkan Kepala PUSARDA Muhammad Anwar sendiri mengaku bahwa dirinya telah di fitnah, garis bawahi kata fitnah (KBBI: perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yg disebarkan dng maksud menjelekkan orang (spt menodai nama baik, merugikan kehormatan orang dan atau perbuatan yg tidak terpuji; alternatif lain : menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dsb). Sehingga jelaslah bahwa salah satu yang dapat diduga sebagai Pelaku adalah salah satu Pekerja di PUSARDA daerah Bandung.

2. Pelaku adalah Oknum dari Instansi Tertentu yang ingin menjatuhkan Pimpinan Lembaga Tersebut.

Mau bukti? lihat saja dampak yang terjadi akibat beredarnya surat tersebut di lingkungan PUSARDA Bandung. Sang Kepala PUSARDA Bandung Muhammad Anwar langsung dipanggil oleh lembaga di atasnya namun bukan oleh Dinas Pendidikan, melainkan langsung menghadap Wali Kota Bandung Ayi Vivananda. Unik bukan? bagaimana Lembaga yang seharusnya pengawasannya dilakukan oleh Kementerian Pendidikan malah langsung dilakukan oleh Lembaga setingkat Eksekutif. Bahkan Wakil Walikota Bandung selain memanggil Anwar juga menyatakan kegeramannya atas kejadian ini dan akan mengusut tuntas permasalahan ini dengan melaporkannya. Jika ditilik lebih lanjut dengan ditemukan atau tidaknya Sang Pelaku, Nama Baik Anwar sudah tercoreng khususnya di Lembaga Eksekutif Pemerintahan Kota Bandung. Terus tujuannya apa? banyak sekali : Agar dipecat, tidak naik pangkat, sampai pencemaran nama baik.

3. Pelaku adalah organisasi keagamaan berhaluan Anarkis.

Dan Yang terakhir (namun bukan berarti yang paling sedikit dicurigai) adalah Organisasi Keagamaan tertentu yang terkenal berhaluan keras dan kerap melakukan aksi anarkis dalam orasinya,,,jreng,,,jreng,,,dia adalah *** , Ya semua pada tahulah siapa organisasi yang dimaksud. Namun apa hubungannya dengan kejadian ini? Jelas ada hubungannya, apalagi Lembaga yang tercoreng namanya adalah Gereja, suatu “momok” bagi organisasi preman berkedok agama ini. Terus mengapa harus gereja tersebut? apalagi kalau bukan karena masalah legalitas pembangunan Gereja tersebut. Ingat Organisasi ini mulai akhir tahun 2011 sampai sekarang sudah giat-giatnya melakukan aksi sweeping Gereja di daerah Jawa Barat, tercatat sudah berpuluh-puluh kali Organisasi binaan Negara Timur Tengah ini memporak-porandakan Gereja di Bandung dan menghasut warga setempat untuk melakukan aktivitas anarkis. Masih ingat kejadian Gereja Paroki Santo Johanes Baptista yang disegel? dimana Pemkot Bogor dinilai telah melanggar peraturan perundang-undangan terindikasi bahwa kejadian ini merupakan hasutan dan atas permintaan organisasi berhaluan keras tersebut, selanjutnya ada penutupan paksa Gereja Rehoboth dan Gereja Kerajaan Mulia di Bandung atas permintaan kelompok tertentu, yang paling parah adalah penyegelan gereja HKBP Tamansari di Setu , Bekasi lagi-lagi diketahui dalang dibalik pembongkaran tersebut atas permintaan kelompok tertentu dan yang terakhir adalah aksi sweeping 5 Gereja di Kota Bandung yang lagi-lagi dilakukan oleh ormas terkenal dengan aksi anarkisnya tersebut. Namun pertanyaannya mengapa organisasi tersebut menerpa Lembaga Perpusatakaan? well dugaan singkat adalah bahwa selain pelaku adalah PNS yang bekerja di Lembaga tersebut juga aktif di organisasi garis keras bersangkutan. Dugaan lain dipilihnya Lembaga Perpusatakaan tersebut sebagai penyebaran fitnah adalah karena suatu lembaga pendidikan akan lebih mendapatkan perhatian jika tersandung masalah immoral seperti ini.

Sehingga jelas sudah oknum-oknum yang mana saja yang dapat dijadikan dugaan sebagai biang dari penyebaran surat tak bermoral ini. Sungguh tragis nasib bangsa ini ketika lembaga pendidikan penting seperti Perpusatakaan dibelenggu isu seperti ini, ini menunjukan bahwa pengawasan dan manajemen pengelolaan Perpustakaan Arsip dan Dokumen Daerah Bandung tidak ketat dan cenderung mudah ditembus. Semoga pihak yang berwenang dengan sergap melakukan penyidikan dan pelakunya segera tertangkap guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Semoga

Salam Kompasiana

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berburu Gaharu di Hutan Perbatasan …

Dodi Mawardi | | 29 November 2014 | 11:18

Jokowi Tegas Soal Ilegal Fishing, …

Sahroha Lumbanraja | | 29 November 2014 | 12:10

Menjadikan Produk Litbang Tuan Rumah di …

Ben Baharuddin Nur | | 29 November 2014 | 13:02

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak? …

Wahyu Indra Sukma | | 29 November 2014 | 05:44

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 6 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 7 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 10 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Pulau Penyengat, Pulaunya Masjid Raya Sultan …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Gerdema: Saatnya Desa Mandiri, Saatnya Desa …

Amelya I. Fatma R. | 8 jam lalu

Selingkuh …

Mamang Haerudin | 8 jam lalu

Miskonsepsi: Fasilitator Pendidikan vs Orang …

Zuhda Mila Fitriana | 8 jam lalu

Analisis Dua Cerita Ulang Imajinatif: Asal …

Astari Kelana Hanin... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: