Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Masteddy

semakin banyak kamu belajar akan semakin sadarlah betapa sedikitnya yang kamu ketahui

11 Juni, 30 Tahun yang Lalu

OPINI | 11 June 2013 | 06:07 Dibaca: 1211   Komentar: 26   7

Di era informasi yang semakin terbuka seperti saat ini, kita bisa mendapatkan, menyaring dan membandingkan informasi yang kita terima. Hal ini agak berbeda dengan tiga puluh tahun yang lalu, ketika jaman orde baru, saat informasi lebih bersifat satu arah. Informasi yang bisa dan boleh dipercaya haruslah sesuai apa kata Departemen Penerangan.

Saat ini masyarakat bisa dengan bebas mendapatkan informasi dari sumber yang beragam. Hal ini bisa membuat sebuah peristiwa bisa demikian fenomenal atau justru sebaliknya, menjadi biasa-biasa saja. Seperti halnya peristiwa gerhana matahari, baik yang sebagian, cincin atau total. Sudah beberapa kali peristiwa ini terjadi sehingga seperti tidak ada sensasinya lagi.

13708766151226760612

Perangko Gerhana Matahari Total, Juni 1983 (gambar dari colnect.com)

Dari sekian peristiwa gerhana matahari yang pernah Anda alami, adakah yang sangat fenomenal atau sangat berkesan bagi Anda ? Bagi saya pribadi adalah gerhana matahari total yang terjadi pada tanggal 11 Juni 1983, tepat 30 tahun yang lalu. Mengapa gerhana matahari tahun 1983 begitu istimewa ?

Beberapa hari sebelum kejadian sudah diberitakan di koran, radio dan TVRI bahwa akan terjadi gerhana matahari total yang melewati sebagian wilayah Indonesia. Diberitakan bahwa para ahli astronomi Indonesia sudah menghitung daerah mana saja yang dilewati, dari jam berapa sampai jam berapa gerhana akan terjadi. Bahkan juga dijelaskan bahwa gerhana matahari total ini diperkirakan hanya akan terjadi sekitar 300 tahun sekali di tempat yang sama.

Bagi saya, yang waktu itu baru duduk di klas 2 SMP, informasi semacam ini tentu saja masuk kategori informasi yang sangat “canggih”. Sehingga masih terus “nempel di otak” sampai sekarang. Beberapa tahun kemudian baru saya ketahui, bahwa peristiwa gerhana -matahari atau bulan- sudah bisa dihitung dan ditentukan jauh-jauh hari sebelumnya.

Tahun 1983 adalah era informasi satu arah. Pemerintah melalui Deppen dengan gencar men-sosialisasi-kan bagaimana cara menghadapi gerhana matahari total. Masyarakat dihimbau untuk tidak melihat gerhana matahari secara langsung karena dapat mengakibatkan kebutaan. Masyarakat dihimbau untuk melihat gerhana matahari melalui TV yang akan disiarkan secara langsung melalui TVRI. Bumbu mitos btara kala yang makan matahari pun ikut dihembuskan untuk menambah kesan betapa seramnya peristiwa gerhana matahari total ini. Sebagai anak yang patuh kepada orang tua yang masih konservatif, tentu tidak ada pilihan lain selain mengikuti himbauan pemerintah ini. Suara dari para ahli astronomi untuk berpikir logis dan realistis dalam menyikapi peristiwa ini tentu saja kalah gaungnya dari suara pemerintah. Para ahli dan turis dari mancanegara berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk menjadi saksi peristiwa ini, tapi rakyat sendiri malah disuruh ngumpet di rumah.

13708767842103420191

Ilustrasi Mitos Gerhana Matahari (gambar dari gudangkartun.blogspot.com)

Menanggapi sikap pemerintah yang dianggap konyol ini, sebagian ahli bahkan mengusulkan tanggal 11 Juni sebagai “Hari Pembodohan Nasional”. Sebagian masyarakat yang sudah lebih paham apa dan bagaimana gerhana matahari total, tentu saja tak mengindahkan himbauan tersebut.

Tanggal 11 Juni 1983 pagi, kami sekeluarga mengungsi ke rumah Paklik yang sudah memiliki TV meski masih hitam putih. Ruangan di depan TV penuh sesak. Ketika siaran langsung dimulai, kami semua menyimak dengan seksama. Apalagi yang menjadi narasumber acara siaran langsung tersebut seorang wanita Indonesia pertama yang berpredikat sebagai “ahli astronomi”. Narasumber yang sangat cantik itu bernama Karlina Supelli, Kepala Seksi Observasi Planetarium Jakarta.

1370876943321202925

Karlina Supelli Leksono (gambar dr komnasperempuan.or.id)

Belakangan Karlina Supelli lebih dikenal dengan nama Karlina Leksono karena menikah dengan wartawan senior Kompas, Ninok Leksono. Ikut demo di bundaran HI ketika harga susu melonjak naik. Wanita ini berhasil menginspirasi saya untuk mendaftar kuliah di jurusan astronomi ITB, meski akhirnya nggak diterima.

Ketika sudah memasuki fase gerhana, kami semakin berdebar menunggu apa yang akan terjadi. Siaran berpindah ke Candi Borobudur yang menjadi salah satu pusat pengamatan. Di sana terdapat seekor monyet yang diikat untuk diamati perilakunya ketika terjadi gerhana matahari total. Perlahan-lahan suasana berubah menjadi gelap. Perasaan merinding menghinggapi tubuh. Saya lihat keluar jendela, gelap gulita. Apalagi di lingkungan rumah paklik saya masih banyak rumah berdinding anyaman bambu (gedhek). Tidak ada yang menyalakan lampu. Terdengar ayam jantan berkokok, anjing menggonggong bahkan kelelewar pun ikut keluar. Luar biasa! Ketika gerhana berlalu, matahari kembali bersinar terang, kami -terutama anak-anak- bertepuk tangan. Horeeee !!!

Mungkin karena masih kecil, saya sendiri juga tidak tahu kenapa bertepuk tangan begitu gerhana matahari selesai dan matahari bersinar terang kembali.

Yang terakhir, gerhana matahari total tanggal 11 Juni 1983 ini bertepatan dengan tanggal 29 Sya’ban 1403 H. Siang gerhana malamnya sholat tarawih hari pertama karena esoknya, tanggal 12 Juni 1983, adalah hari pertama puasa Ramadhan 1403 H.

Setelah itu sudah beberapa kali terjadi gerhana matahari, tapi sensasi dan kesannya tidak seheboh, sesensasional dan sefenomenal gerhana matahari total tahun 1983 tersebut.

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada akun Sanggar Cerita atas video bersejarahnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Real Madrid 1 – 0 Bayern Muenchen …

Arnold Adoe | | 24 April 2014 | 04:37

Pojok Ngoprek: Tablet Sebagai Pengganti Head …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Rp 8,6 Milyar Menuju Senayan. Untuk Menjadi …

Pecel Tempe | | 24 April 2014 | 03:28

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 3 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 4 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 4 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 8 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: