Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Alan Budiman

Facebook, Alifurrahman S Asyari.

Fenomena Alam di Madura yang Banyak Tak Diketahui

REP | 16 June 2013 | 10:32 Dibaca: 1273   Komentar: 8   0

Beberapa hari yang lalu saya sampai di Indonesia, Juanda Airport Surabaya. Berhubung penerbangan malam, ketika keluar bandara sudah tak ada lagi bis angkutan bandara menuju terminal. Akhirnya saya gunakan taksi bandara.

“ga sekalian langsung ke madura saja mas?” kata bapak-bapak supir taksi. Yang bener aja? gumamku dalam hati.

“emang berapa ke madura pak? sumenep” jawab saya balik tanya iseng, yang saya sendiri tak berminat sama sekali menggunakan taksi ke madura.

“murah mas, 500 ribu aja”

“enggak lah pak, saya naik bis aja” sambil saya lanjutin dalam hati “eman uang segitu mending buat beli makan haha”

Tapi selain hemat, karena niatnya ingin mengindap dulu di rumah kakak sepupu yang kerja di Surabaya, jadi pas di Madura ga ditanyain kapan mau main ke Surabaya? hehe

Perjalanan Surabaya ke ujung Madura, Sumenep biasanya ditempuh sekitar 4-5 jam jika menggunakan jembatan Suramadu. Berhubung kalau malam semua kendaraan bisa memakai jembatan ini, maka saya lebih suka bepergian malam hari. Karena kalau siang semua angkutan umum wajib memakai jasa kapal penyebrangan yang bisa memakan waktu 2-3 jam akibat antrian dan jalanya kapal yang agak lambat.

Tapi malam ini sepertinya tidak secepat itu, bayangan saya bisa sampai subuh di rumah ga kesampean karena macet yang luar biasa panjang di daerah Sampang. Awalnya saya ga ngerti ini macet karena apa, karena setau saya di Madura tak pernah ada macet, benar-benar tol sepanjang madura. Ada 3 truk pasukan brimob lengkap dengan seragam menyalip dari lawan arah dan menyuruh mobil-mobil minggir dari antrian. “ada kecelakaan kah?”

Saya benar-benar kebingungan, namun setelah beberapa jam terdiam di dalam bis dan kadang keluar bis untuk jalan-jalan akhirnya saya melihat genangan air sepanjang 3 kilo meter (kira2). Banjir. Jalan yang biasanya dilewati dua arus secara bersamaan, kali ini harus dilewati secara bergantian. Praktis pejalanan yang biasanya ditempuh 4-5 jam kali ini harus saya tempuh selama 9 jam. Membosankan.

Selama perjalanan saya sempatkan mendengar radio dari HP karena semua lagu yang ada sudah habis diputar ulang. Ada kabar bahwa di sumenep sana ada bukit terbelah dua dengan lebar rekahan 2 meter dan kedalaman mencapai 20 meter. Saya mendadak takut dengan berita ini meski nama desa yang disebutkan masih cukup jauh dari desa saya. Menurut kabar dari radio yang entah apa namanya itu, tempat tersebut sempat bergetar selama beberapa saat dan merusak rumah warga. Berutung tak ada korban jiwa dalam musibah ini. Saya langsung mencari-cari berita di google untuk mencari kebenaran berita ini, dan saya temukan

http://nasional.inilah.com/read/detail/2000142/bukit-terbelah-di-sumenep-6-rumah-nyaris-ambruk

Dalam berita tersebut, pada JumatĀ (14/06/13) di Dusun Kecer Laok, Desa Kecer, Kecamatan Dasuk. Lahan pertanian sepanjang 500 meter tiba-tiba tanahnya terbelah dan ambles. Akibatnya, tanaman produktif warga seperti kacang panjang, ketela pohon, dan cabe, rusak karena tanahnya terbelah dan ambles.

Ini tentu mengkhawatirkan mengingat Madura sebelumnya adalah tempat yang Alhamdulillah aman dari bencana yang menelan banyak korban jiwa. Tapi fenomena di banjir di Sampang, menurut teman di daerah tersebut sudah memakan korban. Kegiatan yang selalu saya lakukan ketika sampai di kampung halaman adalah nelponin teman-teman yang nomer Hpnya bisa dihubungi. Dari sekian banyak cerita, ada kisah yang masih tentang fenomena alam. Yaitu di Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep, pada saat menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid, terjadi guncangan sekitar 4 detik. Berhubung di pesantren putri masjidnya masih dilaksanakan di gedung serbaguna yang atapnya terbuat dari seng, maka ketika terjadi goncangan suasana benar-benar bergemuruh dan bahkan sang imam harus lari keluar gedung. Saya tertawa karena memang terdengar lucu, entah apa karena yang cerita unyu-unyu atau memang ceritanya yang mengandung humor meski menakutkan jika saya berada di sana.

Sampai sekarang saya belum bisa tidur, ingin melihat ke tempat lokasi tapi ga diizinkan karena takut ada bencana susulan. Akhirnya saya cerita di kompasiana….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat! Surabaya Meraih Socrates Award …

Ilyani Sudardjat | | 17 April 2014 | 11:14

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 10 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 10 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 10 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 11 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: