Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Wayan Budiartha

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Sayuran Organik

HL | 04 July 2013 | 02:13 Dibaca: 1723   Komentar: 12   3

1372878656421944931

Kelembagan tinggi menjadi penyebab utama tumbuhnya aneka jamur pada sayuran organik.(dok.pribadi)

Segala yang berbau organik sekarang ini memang lagi trend, buah organik, jagung organik, tomat organik, belum lagi selada, bayam, kailan, bahkan daun mint organik juga ada. Di Ubud Bali, tepatnya di Junjungan 3km arah utara dari pusat Ubud, Har 38 tahun membangun kerajaan sayur organiknya sejak tahun 2010. Selama tiga tahun ini dia berhasil menyulap persawahan yang dulunya hanya ditanami padi dan kedele menjadi hamparan sayur organik yang sangat digemari oleh turis yang banyak tinggal di Ubud. Produksinya bertebaran di pasar mewah, mall, mini market dan di pub dan café yang kerap dikunjungi bule.

“Saya belum berani bersaing di pasar tradisional karena harga jauh lebih murah, semisal tomat sekitar Rp 4000 sekilo, sedangkan tomat organik untuk dapat sedikit untung saya harus menjualnya paling murah Rp 8000 perkilonya,” ujar pria berambut gimbal kelahiran Jawa Timur ini.

Dia sudah jatuh bangun di dunia sayur organik sejak tahun 2007. Awalnya ada investor yang menawarkan padanya untuk membuat perkebunan organik seluas 3 hektar di Jembrana, Bali barat, lengkap dengan peternakan sapi untuk sumber pupuk dan pembasmi organik. Tapi itu tidak berjalan karena kesalahan teknis. Dia kemudian merangkak dari bawah belajar tentang sayur organik di Kutuh Ubud, itu tahun 2008.

“Sampai kemudian saya bertemu dengan ibu Susan pemilik resto khusus organik di pusat Ubud, dia menantang saya untuk menjadi pemasok sayuran organik. Saya belajar setahun lagi, seputar pengelolaan dan pemasaran organik sampai kemudian berhasil,” ungkapnya.

Barulah setelah berhasil mengumpulkan modal sedikit demi sedikit dia berusaha sendiri menanam sayur organik tidak tergantung pada kemurahan dan kebaikan hati orang.

Di Junjungan dia perlu 3 tahun untuk meminimalkan pengaruh hara dan zat kimia pada lahan yang disewanya. Karena syaratnya memang begitu, lahan yang sebelumnya ditanami padi secara intensif, yang menggunakan pupuk kimia dan pestisida tidak boleh langsung dirombak jadi lahan tanaman organik.

“Itu teorinya, padahal menurut pengalaman saya, air yang sarat dengan pestisida itu oleh alam dilakukan detoksifikasi dengan adanya aneka macam lumut dan gulma, dialah yang menyerap zat berbahaya,” ungkap Har. Selain itu di lahan bekas tanaman yang ditebari pupuk kimia tumbuh aneka macam rumput yang juga melakukan detoksifikasi terhadap tanah secara alami.

Syarat air dan keasaman tanah sudah teratasi secara alami, Har kemudian berkutat dengan mencari cara yang paling manjur dan cespleng untuk memulai bertanam sayuran organik. Dia mengibaratkan pertumbuhan dan perkembangan sayur organik itu seperti soal matematika.

“Bila tanaman jadi tidak sehat, layu atau pucat daunnya, itu mirip soal matematika yang salah memasukkan rumusnya,” ungkap dia. Har berusaha melakukan perbaikan, entah dengan pemilihan bibit yang juga organik hibrida atau memperbaiki posisi bedengan.

Kesalahan umum yang dilakukan petani sayur yang organik maupun yang non organik adalah mereka membuat bedengan sepanjang lahan yang digarapnya. Ini tentu salah karena akan terjadi kelembaban yang berlebih.

“Yang ideal adalah panjang galengan maksimal 5 meter,” tutur mantan gitaris band ternama di daerahnya ini. Kemudian tinggi tiap galengan juga harus diperhitungkan, semakin tinggi semakin bagus, karena kelembabannya lebih gampang dikontrol. Selain panjang galengan, yang juga sering dilupakan oleh pekebun sayur organik adalah, saluran air disekitar galengan itu. Banyak yang membuatnya sama di semua sudut dan sisinya, padahal ini akan membuat kelembaban menjadi tinggi. Sebaiknya kedalaman saluran air itu berbeda, di sekeliling galengan paling dalam, kemudian di sela bedengan lebih dangkal sehingga galengan gampang dikeringkan saat hujan turun deras, juga gampang mendapatkan sumber air bila sedang musim kemarau.

Selain itu dia juga memberi penutup plastik di setiap galengan, yang bertujuan untuk menghambat pertumbuhan rumput, tetapi sekaligus pula membantu proses fotosintesa.

“Selama ini orang hanya berfikir bahwa foto sintesa pada tanaman hanya terjadi pada siang hari dan melewati bagian atas daun yang menghadap langsung kearah datangnya sinar, padahal dengan bantuan plastik ini sinar matahari terpantul dari bawah dan mengenai bagian bawah daun,” ungkapnya. Dengan cara pantulan itulah fotosintesa lebih optimal maka pertumbuhan sayur organikpun akan sangat baik.

Pupuk juga sering menjadi kendala bagi mereka yang mau mencoba bertanam sayur organik. Har memecahkannya dengan cara yang menakjubkan. Di sekeliling tempat dia berkebun sayur organik ada puluhan tempat penggergajian kayu. Ada yang untuk patung untuk meubel.

“Serbuk gergaji, terutama yang kayunya keras, mengandung banyak kalsium, itulah pupuk terbaik untuk sayur organik, cukup dibebaskan dari rayap dengan menjemurnya selama seminggu kemudian bisa disebarkan di dekat akar tanaman, juga di sela galengan,” ucap Har.

Karena bekerja berdasarkan pengalaman sebagai guru, maka Har hanya dengan melihat sekilas sudah tahu penyebab sayuran tidak subur, atau sayuran terserang hama.

“Masalah pupuk, kandungan natrium sulfat posphor itu masalah kecil, yang terbesar adalah masalah air, kelembaban berlebih kadang menyebabkan tumbuh aneka macam jamur, itulah musuh utama sayur organik,” tuturnya pula.

Dan bila itu terjadi, karena dia pantang melakukan penyemprotan dengan pestisida, yang dilakukan adalah sedini mungkin mencomoti ulat yang menempel di sayuran satu demi satu. Kemudian mengumpulkannya dan dijadikan pakan burung.

“Burungnya berkicau dengan riang, sayuran jadi terbebas dari hama, gampang sekali,” ucapnya sambil mengibaskan rambut gimbalnya. Maka dengan mengontrol pasokan air, sekalipun di musim hujan, dia berhasil bertanam aneka sayuran organik dengan baik.

“Petani sayur biasanya berkeluh kesah tentang curah hujan yang berlebih yang mengurangi minat mereka bertanam sayur, ini yang saya jadikan tantangan, musibah yang menimpa petani sayur tradisional itu saya balik menjadi keuntungan,” tambahnya. Walhasil walaupun perkebunannya berlebih airnya dia tetap bisa panen dengan tenang. Caranya dengan memasang plastik diatas tanaman sayurannya, kemudian membuang kelebihan air lewat saluran yang dirancang dengan baik.

Selain hama dan kelembaban air bagi petani sayur organik masalah utamanya adalah pemasaran. Pasar umum dan pasar tradisional tidak sanggup menampung dan menjual sayur organik karena harganya 2x diatas harga sayuran non organik.

“Kenapa sayur organik lebih mahal, ini karena demi bebasnya sayuran dari zat kimia, maka pemupukan alami dengan serbuk gergaji diberlakukan, sayur tidak dipacu pertumbuhannya,” ungkapnya. Maka satu bedengan sayuran yang menggunakan sistim organik hanya menghasilkan sekitar 20 kg. Sedangkan yang non organik hasilnya lebih banyak maka mereka bisa menjualnya dengan harga murah.

“Kalau bertarung dengan sayuran nonorganik jelas saya kalah, maka saya mesti menaikkan harga untuk menutupi ongkos produksi sewa lahan dan gaji karyawan,” ungkap dia. Dan konsumen biasanya tidak keberatan. Karena mereka sadar sayuran organik lebih sehat, lebih gampang diserap oleh darah, gampang dicerna dan membuat kerja hati dan ginjal tidak berat.

“Istilahnya sayur organik memang mahal, tapi membuat kesehatan dan kebugaran anda terjaga tidak kelelahan karena proses metabolisme tubuh tidak seberat saat mengkonsumsi sayuran non organik,” tambahnya.

Dari pengalaman langsung bertanam sayur organik dia kemudian menjadi guru bagi petani lain yang mulai tertarik untuk pindah jalur. Har memberikan kursus gratis di kebunnya yang seluas 2 hektar itu. Mereka boleh datang melihat percontohan kebun organiknya tanpa dipungut bayaran.

“Kalau saya yang datang ke kebun mereka, atau memberikan analisa dan konsultan buat perkebunan organik yang mereka buat barulah saya memberlakukan tarip tapi itu sangat murah bila dibandingkan mereka mendatangkan pakar pertanian yang berbekal teori muluk muluk,” ucapnya terkekeh.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

Ahokrasi, Tepat dan Harus untuk Jakarta …

Felix | 8 jam lalu

Norman K Jualan Bubur, Tampangnya Lebih Hepi …

Ilyani Sudardjat | 8 jam lalu

Suparto, Penjahit Langganan Jokowi …

Niken Satyawati | 11 jam lalu

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 12 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

“Aku Bukan untuk Si Kaya, Tapi untuk …

Muhammad Samin | 7 jam lalu

Pemandangan di Tepian Sungai Batanghari …

Aryani_yani | 7 jam lalu

Fitur-fitur Wireshark …

Haidar Erdi | 7 jam lalu

Monolog Kebaikan …

Ari Dwi Kasiyanto | 7 jam lalu

Nasib Rakyat Negeri Keledai …

Asmari Rahman | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: