Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Win Ruhdi Bathin

saya seorang penulis, belajar menulis…..suka memoto, bukan fotografer…tinggal di pedalaman Aceh sana. orang gunung (Gayo). selengkapnya

Gayo, Kopi, dan Rumah Ditepi Jurang (Catatan di Balik Gempa Gayo)

REP | 18 July 2013 | 14:58 Dibaca: 342   Komentar: 0   0

Kisah Dibalik Gempa Gayo 2 Juli 2013

Kebun Kopi, Rumah ditepi Jurang dan Cetak Biru

13741331801166579911

Salah satu dampak gempa gayo 2 Juli 2013 lalu. Kerusakan diperparah karena bangunan rumah dan fasilitas umu, berada di pinggir jurang perkebunan kopi

Gempa itu terjadi pada 2 Juli 2013. Pukul 14.37 Wib. Lamanya hanya 15 detik, dengan kekuatan 6.1. Tapi dampaknya, Masya Allah, kehancuran bangunan perumahan petani kopi gayo yang memang berada di puncak dan tebing jurang perkebunan, , termasuk bangunan pemerintah dan rumah ibadah Mersah dan Mesjid.

Dari gempa darat itu, 6 orang masih dinyatakan hilang. Diperkirakan tertimbun tanah longsor, 34 orang meninggal, 92 orang luka berat, 352 orang luka ringan, dan sakit 2150 orang.

Dari 14 Kecamatan yang ada di Aceh Tengah, 12 Kecamatan merupakan lokasi yang terkena bencana langsung (85.71 %). Dari 352 Kampung yang ada 252 Kampung atau setara dengan 71.95 %, merupakan Kampung Bencana gempa lalu.

Dari data terakhir yang dirilis Pemkab Aceh Tengah, masyarakat yang mengungsi mencapai 48.563 orang. Yang kehilangan mata pencaharian, seperti petani atau pekebun kopi , bekerja pada eksportir kopi, industry gula merah ,pabrik penggilingan kopi dll mencapai 4215 orang.

Sementara jumlah bangunan yang rusak parah,sedang dan ringan antara lain rumah penduduk 13.862. Bangunan Kantor Pemerintah 153 unit, sarana kesehatan 239 unit, sarana pendidikan TK/RA 200 unit.

Sarana Pendidikan setingkat SD/MI/MIS 128 unit, menengah pertama, 30 unit, setingkat SMA 23 unit. Rumah Ibadah 269 unit dan infrastruktur jalan kabupaten sepanjang 154.47 kilometer.

—-

1374133583709269250

Beginilah kondisi geografis gayo, dimana tanah yang sedikit datar dijadikan jalan, rumah dan fasilitas umum. Ternyata gayo berada pada dua ancaman besar, longsor karena hujan atau gempa serta kawasan gunung aktip yang bisa meletus kapan saja

Saat gempa terjadi pada Selasa 2 Juli 2013, saya bersama beberapa rekan wartawan,dan Komunitas Pesawat , Kompi –C serta Kombat –C sedang berada didalam mobil dinas Sekretaris Dewan , Subhandy .

Komunitas-komunitas diatas lahir secara spontan begitu saja guna menyatukan berbagai komponen lintas batas dan sektoral yang kerap berkumpul di sebuah kantin Batas Kota di pinggiran Kota Takengen.Disana, tak ada lagi pangkat ,jabatan dan senioritas. Yang ada hanya diri sendiri dan pecandu kopi Arabica gayo.

Komunitas itu lahir karena kesamaan ide dan aksi social bersama sehingga tidak ada AD/ART, easy going saja.Manakala gempa mengguncang, penumpang mobil Sekwan warna putih Kijang Innova yang masih baru itu tak ada yang tahu.

Kecuali sang Sekwan yang perasaannya ternyata begitu halus dan memahami “bahasa” tubuh kenderaan dinasnya yang catnya mirip ambulan itu. Apalagi saat itu kenderaan yang masih bau “Cina” (baru) itu sedang berada di tanjakan Tansaril yang sedang direhab.

“Kenderaan agak oleng. Apa bannnya kempis ya”, ujar Subhandy dan menghentikan kenderaan Inen Nova itu (sebutan warga gayo untuk Innova). Benar saja,sontak semua kenderaan kemudian berhenti seperti dikomando sang gempa.

1374133870358883418

Beginilah kebanyakan rumah petani kopi gayo. Sebagian penyangganya berada di Jurang sehingga sangat riskan pada gempa dan longsor. Perlu kebijakan pimpinan daerah terhadap hunian yang beresiko jika mau mengambil pelajaran dari gempa 2 Juli 2013 atau membiarkannya kembali terjadi kedepan?

Saya sungguh tidak merasakan hentakan gempa karena memang sedang melewati jalan rusak. Dampak gempa sesaat berdurasi 15 detik itu di lokasi Tansaril belum begitu tampak. Kecuali sebuah rumah ditepi sawah yang terjungkal dan kenderaan roda dua yang jatuh saat diparkir.

Kepanikan mulai melanda saat masing –masing penumpang Mobdin Sekwan mendapat telpon dari anak istri atau coba menghubungi keluarga. Sambungan telepon agak susah, akhirnya semuanya berpencar.

Saat itu sekitar pukul 14.50 Wib, sepanjang jalan Yos Sudarso Tansaril-Belang Kolak II, semua orang sudah berada diluar rumah dalam keadaan histeris dan panic. Ada yang masuk got karena lari dari rumah atau kecelakaan kecil kenderaan.

Setelah melihat keadaan keluarga tidak apa-apa, kecuali anak-anak panic dan takut , saya bersama Gunawan , wartawan harian di Banda Aceh sempat berkeliling ke RSU Datu Beru Takengon dan seputaran Kota.

Belum banyak bangunan yang terlihat rusak parah, kecuali di kawasan sekitar Non Perumnas, ada dinding ruko yang tumbang demikian juga rumah serta pagar bangunan. Selebihnya masih retak dan terancam rubuh.

13741341061963038650

Jalan ke Gayo umumnya berada diatas puncak gunung atau bukit yang rata atau sengaja diratakan. Bila musim hujan rawan longsor, demikian halnya akibat gempa. Belum lagi ancaman gunung berapai

Dua rumah tetanggaku di Paya Serngi juga rusak berat. Satu rumah abang becak yang dibangun dari batako tanpa tulang besi dan satunya lagi rumah bantuan konplik yang salah satu dindingnya rubuh.

Aku menduga rubuhnya kedua rumah ini karena memang berada diatas tanah sawah yang ditimbun. Selain itu aku menduga karena namanya proyek, salah satu bangunan rumah korban konplik itu memang dibangun seadanya guna mendapatkan untung banyak bagi rekanan.

Guna mengetahui seberapa parah sesungguhnya gempa 2 Juli 2013 ini, aku sengaja menuju rumah sakit, beberapa korban sudah masuk, rata-rata luka atau patah karena kejatuhan bangunan. Tapi jumlahnya belum banyak.

Disana kawan-kawan media juga sedang melakukan liputan. Dari RSU lah diperoleh informasi bahwa beberapa Kecamatan terkena dampak gempa paling parah, yakni di Kecamatan Ketol.Beberapa anak-anak sedang mengaji tertimbun reruntuhan Mesjid yang ambruk.

Rekan-rekan dari media berinisiatif langsung menuju TKP menggunakan kenderaan Jurnalisa, wartawan harian terbitan Medan. Tanpa komando, mungkin sudah naluri jurnalis semua berlompatan kedalam mobil jenis Mitsubisi Kuda ini.

Memasuki kawasan Bukit Menjangan , kerusakan sudah mulai tampak. Menanjak terus hingga ke Ratawali –Kute Panang-Gelumpang Payung-Pulo Aceh dan berhenti di Blang Mancung Atas. Sepanjang perjalanan ini tampak bangunan disisi jalan ini rusak parah.

Kerusakan paling parah adalah bangunan beton atau batu. Rata-rata runtuh atau retak serta miring. Bangunan yang masih bertahan dari keruntuhan adalah bangunan berbahan kayu. Gempa 2 Juli 2013 menyadarkanku akan sebuah fakta.

Fakta bahwa rumah penduduk gayo yang berada di Kecamatan Kute Panang dan Ketol dan Silih Nara serta hamper semua kecamatan lainnya di Aceh Tengah dan Bener Meriah, dibangun dipuncak bukit terjal.

Sebut saja Kampung Wih Nongkal atau Kute Panang. Semua kawasan disini meruapakan kawasan perkebunan kopi yang sebagian kemiringan lahannya diatas 40 derajat. Lokasi yang sangat tidak layak dijadikan perkebunan dan hunian.

Di dua lokasi Kampung penghasil kopi arabika ini, tanah yang sedikit datar dijadikan jalan, rumah , sekolah, Mersah atau Mesjid atau fasilitas umum. Selebihnya adalah kebun kopi yang terjal.

Bahkan sebagian rumah warga tiang penyangganya berada di bibir jurang dan sebagian lainnya, berada pada tanah yang datar. Biasanya, bagian rumah yang berada ditanah datar ini adalah bagian depan rumah. Tiang rumah Yang di jurang adalah bagian belakang (dapur).

Akibatnya , begitu gempa datang, rumah dan fasilitas umum ini langsung rontok. Konon lagi pusat gempa berada tak jauh dari lokasi ini. Pakar gempa BPPT, Dr Agustan, mengatakan,bahwa gempa yang terjadi di Gayo tidak terletak pada patahan utama, melainkan pada cabang-cabangnya.

Dikatakan Dr Agustan, gempa di gayo terjadi pada patahan horizontalnya dengan sumber gempa bukan di patahan utama. Agustan dan rekan-rekannya di BPPT terkejut karena gempa tersebut terjadi di pegunungan yang keras dari sisi material geologis penyusun (Sumber :LKBN Antara) .

Sementara itu, menurut Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh, Ir Faizal Adriansyah MSi, menanggapi fenomena gempa Gayo 2 Juli, mengatakan, belum solid atau belum kompaknya bebatuan di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah menjadi penyebab bangunan di atasnya mudah retak atau bancur saat diguncang gempa.

Apalagi jika gempanya gempa darat. Faizal menambahkan, tingkat kerusakan akibat gempa, antara lain, ditentukan oleh jarak pusat gempa dan jenis batuan yang ada di wilayah gempa. Pusat gempa 2 Juli lalu itu, menurut BMKG, terletak di darat dan dangkal, sehingga getarannya dahsyat dan daya destruktif juga tinggi.

Faizal mengingatkan, energi pusat gempa yang sudah dilepaskan pada 2 Juli lalu berkekuatan 6,2 SR. Jadi, kalau ada gempa lagi dari sumber yang sama justru merupakan gempa susulan yang umumnya semakin melemah. Jadi, tidak perlu terlalu dirisaukan.

Sebelumnya, Prof Kimata, pakar gempa dari Universitas Nagoya, Jepang, yang sedang melakukan riset gempa di Takengon mengatakan, di Jepang gempa dengan kekuatan 6,2 SR jarang merusak banyak bangunan. “Tapi di sini bangunan tidak kokoh, kualitasnya buruk, sehingga banyak yang rusak. Ke depan, kualitasnya perlu ditingkatkan,” demikian Prof Kimata (Sumber : Serambinews.com)

Pakar gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja, mengatakan, “Gempa Aceh kemarin berdampak besar karena sumbernya di daratan dan dekat dengan permukaan.”

Gempa berpusat di 181 kilometer dari Banda Aceh, 35 kilometer barat daya Kabupaten Bener Meriah. Kedalaman gempa dangkal, hanya 10 kilometer.

Karena sumbernya dangkal maka guncangannya sangat terasa dan banyak bangunan roboh, demikian kata Danny saat dihubungi Kompas.com. Gempa Aceh kali ini mengingatkan kembali pada gempa Yogyakarta bermagnitudo 6,5 yang terjadi pada 27 Mei 2006 lalu. Keduanya sama-sama merupakan gempa daratan.

Gempa Yogyakarta kala itu dipicu oleh aktivitas di sekitar sesar Opak yang memanjang dari Bantul hingga Prambanan, melewati wilayah permukiman.

Saat itu, guncangan gempa terasa selama 57 detik. Akibat gempa yang terjadi pada kedalaman 17 kilometer itu, rumah, bangunan bersejarah, dan fasilitas umum rusak. Ribuan orang tewas.

Danny mengungkapkan, kerusakan yang terjadi akibat gempa dapat dipengaruhi oleh lokasi, karakteristik tanah, dan kualitas bangunan.

“Gempa Yogyakarta sangat merusak karena sesar yang aktif ada di bawah kawasan permukiman penduduk,” kata Danny.

“Di Yogyakarta, karakteristik tanahnya juga merupakan endapan vulkanik yang rapuh sehingga mengamplifikasi gempa,” imbuh Danny.

Semakin lunak karakteristik tanah, semakin besar kemampuan mengamplifikasi gempa. Dengan demikian, guncangan akibat gempa lebih kuat dan potensi merusak lebih besar (Sumber :Kompas).

Ibnu Rusydy, Peneliti Geo-Hazard Tsunami and Disaster Mitigation Research Centre (TDMRC)-Unsyiah, mengatakan bahwa pusat gempa Aceh kemarin berada di segmen Aceh.

Segmen Aceh adalah bagian dari Patahan Sumatera yang berdasarkan studi Danny dibagi menjadi 19 segmen, antara lain Seulimuem, Semangko, Musi, dan Barumun.

Danny mengungkapkan, dengan banyaknya bangunan yang rusak di Aceh, maka ia menduga, wilayah yang banyak mengalami kerusakan merupakan wilayah yang dilewati sesar yang aktif.


Ibnu, kepada Kompas.com, kemarin, mengatakan, sejak 1892, telah terjadi gempa daratan dengan getaran mencapai VI MMI di sepanjang sesar Sumatera.

Selain itu, ada seismic gap, wilayah yang jarang mengalami gempa, yang perlu diwaspadai. Untuk Aceh, ada tiga segmen yang wajib diwaspadai, yaitu Tripa, Aceh, dan Seulimeum.

Tak adanya gempa wajib diwaspadai sebab sewaktu-waktu energi yang tersimpan di segmen itu bisa lepas menimbulkan gempa.

Danny mengatakan, di wilayah Toba, terdapat sesar aktif yang sudah selama 100 tahun belum melepaskan energinya. Ada pula seismic gap di wilayah Musi, Sumatera Selatan.

Menurut Danny, patahan Sumatera telah dipelajari dan dipetakan secara sistematis. Untuk meminimalkan dampak gempa, diperlukan aplikasi dari hasil studi tersebut.

“Bagaimana perencanaan tata ruang didasarkan pada hasil studi itu. Jangan sampai ada rumah apalagi fasilitas publik yang persis ada di atas sesar,” katanya.

“Untuk penduduk yang rumahnya telanjur ada di sekitar sesar aktif, perlu edukasi sehingga mereka siap,” imbuh Danny.

Sementara itu, di wilayah Indonesia lain, pemetaan sesar daratan perlu dilakukan sehingga pemerintah daerah memiliki dasar untuk merencanakan tata ruang dengan memperhitungkan risiko gempa. (Sumber : Kompas)

Melihat apa yang diungkapkan para pakar gempa diatas, diyakini bahwa beberapa kawasan di Takengon berada diatas sesar aktip . Seperti Non Perumnas Kebayakan naik hingga ke Bukit . Demikian halnya Mongal, Daling dan Belang Gele.

Dikawasan ini , kerusakan paling parah terjadi dan membentuk seperti sebuah garis gempa. Dibawah tanah lokasi inilah diduga sesar aktip yang merupakan cabang-cabang sesar aktip, bukan sesar utama.

“Ditempat saya, tanah seperti diayak-ayak sehingga praktis semua bangunan yang ada hancur . Tak ada lagi bangunan yang layak huni”, kata Haji Rasyid, seorang pengusaha eksportir kopi arabika gayo di Kampung Mongal Kecamatan Bebesen.

Haji Rasyid dikenal luas sebagai pengusaha kopi gayo baik lokal maupun mancanegara karena kebijakannya yang selalu member kopi gratis bagi siapa saja yang berkunjung ke pabrik kopinya di Mongal Takengon. Puluhan milyar asset haji Rasyid hancur karena gempa 2 Juli 2013 lalu.

Ada beberapa hal yang dapat disimpulkan atas gempa yang terjadi pada 2 Juli 2013 lalu di Gayo.

Gempa sebelumnya pernah terjadi di gayo sekitar tahun 2007/2008 lalu. Kawasan terparah akibat gempa kala itu sama dengan gempa 2 juli 2013 ini. Hal ini diakibatkan banyak hal, salah satunya, kawasan pemukiman warga berada di puncak bukit yang curam.

Kualitas bangunan yang rendah menjadi salah satu pemicu tingginya kerusakan bangunan. Kebijakan warga gayo mulai menggunakan batako pengganti batu bata untuk dijadikan bahan bangunan sejak diberlakukannya moratorium logging (jeda tebang) yang digelontorkan oleh Gubernur Aceh sebelumnya, Irwandi Yusuf.

Sejak saat itu hingga kini, jeda tebang kayu belum dicabut. Parahnya yang justru diuntungkan dari kebijakan ini adalah para mafia kayu yang merupakan lintas oknum bajingan tengik yang hanya mencari keuntungan pribadi dengan membabat hutan.

Sementara jika rakyat jelata menebang pohon kayu meski di tanahnya sendiri, harus terlebih dahulu mengurus ijin dari Dinas Kehutanan setempat dilengkapi dengan berapa kubik kayu yang akan dijadikan bahan. Kegiatan ini akan diawasi oleh Polisi Hutan yang juga dibentuk saat di era Gubernur Irwandi Yusuf.

Padahal kawasan dataran tinggi seperti gayo, kurang cocok membangun dengan material beton atau berbahan batu karena dingin dan rentan rubuh karena kawasan ini ternyata berada diatas sesar aktip.

Namun rakyat yang biasanya patuh aturan dan tidak ingin berurusan dengan birokrat yang cenderung minta dilayani , bukan melayani, akhirnya mengubah penggunaan kayu ke batako yang popular beberapa tahun setelah kebijakan moratorium loggingnya Aceh.

Sementara kualitas batako yang dijual juga belum tentu standar sehingga siapa saja bisa membuat batako dan menjualnya tanpa diawasi. Seperti diketahui, Aceh yang merupakan daerah konplik dan bencana merupakan kawasan terparah kehancuran infrastruktur dan ekonomi.

Di era konplik, bangunan pemerintah dan fasilitas umum dibakar. Setelah rekonsiliasi, triliyunan uang digelontorkan untuk membangun fasilitas umum dan rumah korban konplik. Semua ini adalah proyek dimana mentalitas korup pemangku kepentingan dan rekanan membuat kadar dan kualitas bangunan dipercaya menurun karena besarnya fee atau pajak nanggroe.

Setelah konplik, Aceh kembali diguncang oleh prahara baru, yakni gempa dan tsunami.Bantuan datang , demikian juga proyek-proyek baru pembangunan. Sayang, masih terdengar fee dan fee agar proyek diberikan kepada rekanan tertentu, mereka harus bayar fee.

Nilai fee terus naik hingga 15 persen dari total proyek atau ada yang berani lebih. Meski tidak ada di aturan hukum proyek atau tender atau lelang, fee dilakukan dikawasan TST. Sepaham. Akibatnya nilai dan kualitas bangunan harus dikurangi .

Pengurangan nilai dan kualitas proyek akibat fee ini adalah kesepahaman dan persetujuan gelap antara para pihak yang terlibat yang selama ini seolah terhormat, berwibawa dan mewakili rakyat untuk secepat-cepatnya menghancurkan bangunan. Jika hal ini terjadi , maka mereka bertanggungjawab atas sejumlah kehancuran dan kematian jiwa .

Kedepan, pemkab Aceh Tengah dan Bener Meriah tentu saja harus dan wajib mengkaji ulang kawasan bangunan perumahan penduduk , failitas umum dan lokasi perkebunan serta hutan lindung serta konservasi.

Karena akibat gempa 2 Juli 2013 lalu, memori kepala daerah kawasan pegunungan gayo ini harus sudah terisi dengan gambaran dan kemungkinan yang terjadi bila gempa kembali terjadi karena memang kawasan ini berada diatas sesar aktip.

Dengan gambaran itu, cetak biru pembangunan kedepan harus sudah pada tataran pengurangan resiko bencana bagi kawasan pemukiman dan fasilitas umum. Demikian halnya para anggota dewan yang selama ini baru mewakili rakyat soal kemewahan dan gengsi serta hidup instan.

Para anggota dewan yang akan berakhir masa jabatan ini dan digantikan anggota DPRK yang baru harus mengedepankan analisa ilmiah, bukan analisa kawasan asal, urang, belah dan analisa uang dari fee atau proyek untuk teman kolusi.

Sebuah pelajaran berharga bagi kita semua atas gempa 2 Juli 2013 ini. Tentang kualitas bangunan yang hanya cari untung. Tentang kebijakan Morratorium Logging yang menguntungkan mafia, tentang bangunan ditepi jurang. Dan tentang kebersamaan sebagai jamaah meringankan beban saudara yang tertimpa musibah tanpa membawa politik dan kerakusan dunia lainnya.Dan diperlukan cetak biru  kedepan berbasis gempa dan letusan gunung api yang akan tiba kapan saja tanpa salam. Karena Gayo adalah kawasan longsor,gempa dan ancaman gunung berapi aktip

13741325851839793867

Beginilah petani kopi gayo membangun rumah mereka. Tanah yang sedikit datar dijadikan jalan, rumah dan fasilitas umum. Selebihnya adalah perkebunan kopi dengan kemiringin yang terjal

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Ketika Rintik Hujan Itu Turun di Kampung …

Asep Rizal | | 21 October 2014 | 22:56

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Dari Body Mulus, Sampai Bibir Sexy …

Seneng | 7 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 13 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 14 jam lalu

Anda Tidak Percaya Alien, Maka Anda Sombong …

Zulkifli Taher | 14 jam lalu

Anfield Crowd, Faktor X Liverpool Meredam …

Achmad Suwefi | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Berlari itu Menginspirasi …

Hanni | 8 jam lalu

Diari Santri: #15 Perak Laju …

Syrosmien | 8 jam lalu

Misteri Kartu di Mandala …

Aksa Hariri | 8 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 8 jam lalu

Ledakan Permintaan Jasa Rumah Sakit …

Petra Sembilan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: