Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Kharis Na

Calon Politisi yang sedang belajar Ilmu Politik di Universitas Brawijaya Malang Calon Bupati Lombok Tengah selengkapnya

Perubahan Akan Mengikis Keindahan Lombok Qu

OPINI | 23 July 2013 | 21:43 Dibaca: 193   Komentar: 0   0

Mengikis ?? apa gak salah ?? malah bagus dund Lombok akan berubah, tereksplor kekayaan alamnya yang tersembuyi cukup lama, yang di tutupi oleh kemajuan pariwisata di daerah sebelah, BALI!!

Yah LombokQ sebentar lagi akan berubah, akan dihujani turis domestik, maupun mancanegara yang akan  mengujunginya, mengagumi keindahan alamnya, membicarakan budayanya.

Banyak bule-bule yang akan berkeliaran membawa papan selancar, devisa daerah makin bertambah, mall-mall akan berdiri bergantayangan, kafe-kafe seperti diberi pupuk super subur yang membuat tumbuh begitu cepatnya, lowongan pekerjaan pun kan banyak, hotel-hotel, kafe-kafe akan banyak membutuhkan orang yang terampil dan yang harus mengisi pekerjaan itu.

Kita, sebagai putra-putri daerah, jangan sampai pekerjaan itu di isi oleh orang-orang daerah lain. Bagi putra putri daerah yang lama kesepian, yang biasa nongkrong di MASJID, di DEPAN KANTOR DAERAH, pun akan segera mempuyai tempat tongkrongan yang resmi, dan lebih cocok untuk ditongkrongin. Wess pokoknya berubah deh, gak sepi seperti sekarang!!

Setiap perubahan pasti akan membawa dampak positf dan negative, dampak positif telah saya uraikan di atas, lalu dampak negatifnya???

Saya akan uraikan sebagai berikut, kemajuan Lombok yang  telah lama dinanti-nanti akhirnya datang juga, tapi ada konsekuensi dari  perubahan tersebut, seperti  udara Lombok yang masih alami, sedikit tidak akan berubah menjadi bau asap knalpot, yang makin banyak kendaraan berlalu-lalang di jalan, macet pasti (semoga gak separah Jakarta ja).

Transportasi asli Lombok (dokar) mungkin akan dikurangi. sebenarnya ada atau tidaknya dokar tidak akan membuat pemakai dokar menjadi galau, tapi para pemilik dokar-dokar ini kan kelimpung bagaimana mencari nafkah buat keluarganya. Disisi lain pemerintah harus memperhatikan dan bisa mengakomodir atau dialih fungsikan ke tempat”pariwisata, seperti yang sudah diterapkan di GILI TRAWANGAN.

Budaya dipertahankan, pariwisata maju sama-sama, adil kan?

Selanjutnya masalah sampah yang akan banyak tercipta. Jangan sampai setelah pariwisata maju masalah ini akan timbul seperti yang terjadi di pulau bali kemarin. Harus dari sekarang pemerintah menyiapkan daur ulang sampah, bukan hanya mencari tempat pembuangan akhir sampah, yang ujung-ujungnya makin menumpuk-menumpuk menjadi gunungan sampah.

lebih dari semua masalah yang pasti terjadi, masalah yang satu ini yang paling saya takutkan. Saudara-saudara kita yang ada di Lombok selatan sana, yang dekat dengan Bandara International yang merupakan daerah wisata,  akan terlena dengan perubahan. Sehingga akan dengan mudahnya menjual aset-aset berharga mereka untuk dibeli oleh investor-investor yang akan mendirikan, hotel, kafe, atau vila dengan harga yang sangat murah.

Harga yang murah disini dimaksudkan dalam pandangan sebagi pembeli. Bayangin aja, tanah yang dibeli seharga Rp. 200.000.000 setelah dikembangakan menjadi Rp. 1 M perbulan. siapa yang rugi??? Okee pada saat itu kita mendapatkan uang yang banyak, tapi lok tidak pandai mengelola uang sebegitu banyak, dalam sehari uang itu kan ludas. tanah di jual, uang habis pula!!.

Bisa dibayangin lok semua orang yang di daerah selatan itu menjual tanahnya, atau sebagain tanah di Lombok habis dijual untuk dibuat hotal, vila, kafe, bisa-bisa kita akan NGEKOS di daerah kita sendiri!!

Menjual tanah kita kepada investor itu adalah cara yang amat salah untuk mendapatkan uang banyak, ada baiknya tanah itu DISEWAKAN bukan DIJUAL. Contohnya, Investor menyewa tanah milik saudara udin di Lombok, oke dia bebas untuk membangun apa pun diatas tanah tersebut.

Misalnya diatas tanah itu investor akan membangun hotel, dalam setahun investor itu mendapatkan total keuntungan 2 M, dari situ saudara udin hanya meminta jatah 1% ja dari keuntungn investor tersebut. Kalo di hitung-hitung seperti ini :  Rp. 2.000.000.000 x 1% = Rp. 20.000.000. Uang 20 juta ini didapatkan udin dalam waktu setahun tanpa usaha kerja apapun, lumayan!! Tapi gimana kalo keuntungan sedikit dan usaha yang dibangun bangkrut, ya investor itu juga bakalan berenti untuk menyewa, tanah masih tetap milik si udin.

Tetapi praktek dilapangan mungkin berbeda, para investor mungkin akan merayu dengan sekuat tenaga, dan SDM kita didaerah selatan harus di jelaskan oleh pemerintah. Pemerintah juga harus mempromosikan aturan yang seperti ini, bukan mencari untung ditengah kesusahan masyarakatnya.

Dan untuk kalian yang mempuyai sanak, saudara di daerah sana, bantu mereka untuk tidak menjual tanah dengan sangat mudah ke investor.

Jangan kita menyesal setelah merasa NGEKOS di daerah sendiri, perlu ada kepedulian dari semua pihak untuk membangun Lombok. Lombok boleh diexplor kekayaan alamnya,  diexplor untuk dikembangkan bukan untuk dihabiskan dan digunduli, apa lagi untuk DIJUAL.

ini hanya dari pandangn saya saja, lok ada yang kurang ya monggo di koment ^^

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 17 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 19 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 20 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 21 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: