Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Marufinsudibyo

Hanya seseorang yang suka melihat bintang....

Rokatenda, Sepotong Petaka Pasca Hari Raya

REP | 13 August 2013 | 17:57 Dibaca: 381   Komentar: 1   3

Dentuman sangat keras terdengar pada Sabtu pagi buta 10 Agustus 2013 dari arah Gunung Rokatenda di tengah-tengah pulau Palue (Paluweh), sebuah pulau kecil seluas 39,5 kilometer persegi di tengah-tengah Laut Flores yang termasuk bagian Kabupaten Sikka (Nusa Tenggara Timur). Dentuman itu sontak menciutkan hati segenap orang. Namun kejutan demi kejutan berikutnya segera menyusul. Sesaat setelah dentuman menggelegar, tanah mulai bergetar seiring lindu. Hampir bersamaan kemudian puncak Rokatenda mulai memuntahkan kepulan bebatuan, debu dan gas vulkanik nan membara menembus langit yang masih gulita karena Matahari baru terbit 1,5 jam lagi. Kepulan membara tersebut membumbung hingga setinggi 2.000 meter di atas puncak. Bebarengan dengannya terbentuklah awan panas, yakni kumpulan pasir, debu dan kerikil yang bercampur-baur yang demikian panas membara dengan suhu awal melebihi 600 derajat Celcius dan mengalir laksana lumpur pekat menyusuri lereng-lereng gunung. Monster panas membara menakutkan itu pun segera berkibar ke arah utara hingga 4 kilometer jauhnya, sampai-sampai memasuki perairan Laut Flores.

13763898621839340156

Gambar1. Kepulan debu vulkanik yang menjulang hingga setinggi 2.000 meter untuk kemudian hanyut mendatar terbawa angin masih terlihat dari Gunung Rokatenda, dua hari pasca peristiwa 10 Agustus 2013. Sumber : BNPB, 2013.

Letusan pagi buta itu sontak membuat panik penduduk Palue. Apalagi terjangan awan panasnya demikian mendadak dan menyebal dari kebiasaan, karena sebelumnya puncak Rokatenda lebih rajin mengirim awan panasnya ke lereng selatan. Lima orang meregang nyawa diterjang awan panas namun sejauh ini hanya tiga jasad saja yang sudah ditemukan. Ratusan orang segera dievakuasi keluar pulau. Hingga dua hari kemudian sebanyak 511 orang orang telah diungsikan ke kota Sikka menggunakan kapal, termasuk 157 anak-anak siswa SD dan SMP di seantero Palue.

Letusan Rokatenda amat mengagetkan Indonesia yang masih menikmati suasana libur Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Terjangan awan panas seakan tak kenal kompromi dengan sebuah peristiwa religius yang memiliki imbas cukup dalam pada ranah ekonomi, sosial dan budaya. Bagaimana semua ini bisa terjadi?

Tsunami 1928

Pulau Palue adalah sebuah pulau gunung berapi yang berjarak sekitar 30 kilometer di utara pulau Flores, pulau utama di propinsi Nusa Tenggara Timur. Seluruh bagian pulau yang memiliki garis tengah 8 kilometer tersebut sejatinya merupakan tubuh gunung berapi Rokatenda yang menjulang dari kedalaman Laut Flores. Jika dihitung dari dasar laut, Gunung Rokatenda adalah sebuah gunung berapi besar yang menjulang hingga setinggi 3.000 meter atau tak kalah dibanding Gunung Slamet (Jawa Tengah). Namun kebesaran itu tersembunyi di balik birunya air Laut Flores dan hanya menyisakan ujung kecil mungil yang menyembul hingga setinggi 875 meter saja dari paras air laut. Sebuah kawah berdiameter 900 meter menghiasi puncaknya dan penuh berisi sejumlah kubah lava produk letusan terdahulu. Gunung ini memang satu tipe dengan Gunung Merapi (Jawa Tengah-DIY) yang rajin membentuk gundukan kubah lava di puncaknya tatkala meletus seiring rendahnya tekanan gas vulkanik dari kantung magma tepat di bawah gunung. Kubah lava kemudian menghempas sebagian dan berkibar menjadi awan panas dalam episode letusan berikutnya, saat desakan magma ataupun faktor eksternal membuatnya kehilangan stabilitas dan gugur menuruni lereng.

137639075410410560

Kubah lava baru di puncak Gunung Rokatenda yang terbentuk semenjak Oktober 2012 silam. Longsornya sisi selatan dan utara kubah lava ini, masing-masing pada 13 Februari dan 10 Agustus 2013, menyebabkan awan panas berkibar ke arah selatan dan tenggara. Sumber : Pos Kupang, 2013.

Gunung Rokatenda adalah bagian dari jajaran gunung-gunung berapi yang memaku bumi Bali dan Nusa Tenggara, kepulauan yang dulu kerap disebut Kepulauan Sunda Kecil. Seperti halnya pulau Jawa dan Sumatra, Bali dan Nusa Tenggara adalah hasil interaksi lempeng Sunda (Eurasia) yang stabil dan lempeng Australia yang mendesak dari selatan, dimana lempeng Australia melekuk dan menyelusup ke bawah lempeng Sunda sebagai subduksi. Di sepanjang Bali dan Nusa Tenggara, subduksi itu terjadi di sepanjang lepas pantai selatan yang secara kasat mata berupa palung laut memanjang dari barat ke timur dan sedikit berbelok di sekitar pulau Sumba dan Timor. Namun interaksi itu lebih kompleks karena, berbeda dengan pulau Jawa, di sepanjang sisi utara Bali dan Nusa Tenggara juga muncul fenomena busur belakang yang mewujud sebagai sistem patahan anjak (naik) Flores dan Wetar nan panjang. Maka Bali dan Nusa Tenggara dikepung rapat oleh dua sumber gempa utama baik di sisi selatan maupun utaranya. Jika sumber gempa sebelah selatan pernah meletup dahsyat pada 10 Agustus 1977 silam dengan kekuatan hingga 8 SM (skala magnitudo) dan menghempaskan tsunami besar yang menewaskan hampir 500 jiwa, maka sumber gempa sebelah utara tak kurang dahsyatnya. Misalnya dalam kejadian gempa 12 Desember 1992 (kekuatan 7,5 SM) yang menerbitkan tsunami besar hingga setinggi 26meter dan merenggut nyawa lebih dari 2.000 orang di kota Maumere dan pesisir utara Flores lainnya. Tsunami Maumere 1992 ini tercatat sebagai tsunami paling mematikan di Indonesia sepanjang abad ke-20, sebelum peristiwa gempa akbar dan tsunami Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 merenggut lebih banyak korban jiwa di ujung utara pulau Sumatra.

Terkait tsunami, gunung Rokatenda pun tak kalah spektakuler khususnya saat meletus pada 4 Agustus hingga 25 September 1928 silam. Letusan dengan skala 3 VEI itu memuntahkan rempah vulkanik antara 10 hingga 100 juta meter kubik. Termasuk di antaranya adalah awan panas, yang meluncur deras hingga memasuki perairan Laut Flores dalam volume cukup besar. Interaksi awan panas yang membara dengan air laut menghasilkan tsunami yang bersifat lokal, namun sebaliknya memiliki tinggi gelombang cukup besar. Tsunami setinggi 5 hingga 7 meter menyapu pesisir pulau Palue dan menewaskan 260 orang yang hendak mengungsi keluar seiring terjadinya letusan. Tsunami bahkan masih terasakan di pesisir utara pulau Flores, yang merenggut nyawa 6 orang dan mendamparkan 6 kapal dagang. Ini merupakan perulangan dari peristiwa Letusan Krakatau 1883 dan Letusan Tambora 1815, saat interaksi awan panas dalam volume sangat besar dengan air laut pun menerbitkan tsunami perusak yang membunuh banyak manusia. Meskipun skala kedahsyatan tsunami Rokatenda jauh lebih kecil dibanding kedua peristiwa letusan gunung berapi legendaris tersebut.

1376391044205579928

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) letusan Gunung Rokatenda. Lingkaran merah berjari-jari 1 kilometer dari puncak, sementara tiga lingkaran kuning berikutnya berturut-turut berjari-jari 2, 3 dan 4 kilometer dari puncak. Alur kuning merupakan lembah-lembah sungai yang menjadi KRB 1 yang potensi bahayanya minimal, sementara area merah muda merupakan KRB 2 yang berpotensi bahayanya medium dan area merah merupakan KRB 3 yang potensi bahayanya paling besar terhadap kejadian letusan. Sumber : BNPB, 2013.

Pasca letusan 1928, Gunung Rokatenda kembali meletus pada 1963-1966, 1972-1973, 1980-1981, 1984 dan 1985. Terkecuali letusan 1972-1973, semuanya memiliki skala letusan kecil yakni hanya berkisar antara 1 hingga 2 VEI. Tak ada korban jiwa yang berjatuhan dalam letusan-letusan tersebut. Letusan 1963-1966 bahkan hanya menyebabkan 3 orang luka-luka.

Semenjak 2012

Setelah 27 tahun tertidur pasca aktivitas terakhirnya pada 3 Februari 1985, Gunung Rokatenda kembali menggeliat pada Juni 2012. Peningkatan aktivitas memaksa Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan statusnya secara bertahap dalam tempo cukup singkat. Sehingga pada 13 Oktober 2012 Gunung Rokatenda telah berstatus Siaga (Tingkat 3), tingkatan terakhir sebelum status Awas (status tertinggi). Dalam tingkatan ini penduduk yang tinggal di sekitar gunung khususnya di dalam Kawasan Rawan Bencana 3 dan 2, yakni kawasan yang berpotensi terkena hempasan awan panas, gas beracun, leleran lava letusan dan jatuhan bebatuan pijar produk letusan, sudah harus dievakuasi. Status itu bertahan hingga kini.

137639114488300953

Posisi Gunung Rokatenda (segitiga merah) di busur Kepulauan Sunda Kecil.Nampak patahan anjak (sesar naik) Flores melintas di sisi utara gunung. Sumber : Budiono, 2009.

Perkembangan aktivitas Gunung Rokatenda kian mengkhawatirkan pasca Oktober 2012. Pendakian dari segenap sisi gunung pada 30 November hingga 2 Desember 2012 memastikan sebuah kubah lava baru tumbuh di dalam kawah dan terus membesar hingga akhirnya setinggi 150 meter dari dasar kawah dengan lebar 200 hingga 250 meter dan volumenya sebesar 5,1 juta meter kubik . Letusan-letusan kecil berkali-kali terjadi dan membumbungkan debu vulkanik hingga setinggi sekitar 3.000 meter. Pada akhirnya apa yang dikhawatirkan pun terjadilah, yakni pada Rabu 13 Februari 2013 saat seperempat bagian sisi selatan kubah lava baru ini longsor dan berubah menjadi awan panas. Awan panas merangsek sejauh 3 kilometer ke selatan, sementara debu vulkanik yang sempat melejit hingga setinggi 4.000 meter lantas menghujani dan membedaki seluruh pulau dan kawasan sekitarnya, bahkan hingga mencapai kota Ende yang jauhnya 60 kilometer. Letusan ini tidak memakan korban jiwa maupun luka-luka, namun sudah cukup sebagai landasan untuk mengevakuasi penduduk Palue.

Evakuasi ini tidaklah gampang. Pulau Palue dihuni oleh sekitar 9.990 jiwa di delapan desa dengan 657 orang diantaranya bahkan tinggal di Kawasan Rawan Bencana 3 yang sesungguhnya kawasan terlarang. Maka problem sosial yang membelit Gunung Rokatenda pun serupa dengan Gunung Merapi, sama-sama padat oleh hunian manusia bahkan hingga mendekati puncaknya. Meski letusan Rokatenda 1963-1966 membikin trauma dan membuat segenap penduduk sempat direlokasi ke Maumere lengkap dengan hunian dan lahan persawahannya, namun perlahan namun pasti mereka akhirnya kembali lagi ke pulau Palue sebagai tanah tumpah darahnya. Faktor inilah yang membuat rekomendasi PVMBG untuk merelokasi penduduk pulau Palue sulit dilaksanakan. Padahal sebuah gunung berapi takkan pernah terus-menerus berperilaku serupa untuk jangka waktu yang lama. Letusan Kelud 2007 dan Letusan Merapi 2010 menjadi bukti terkini bagaimana karakter sebuah gunung berapi dapat berubah dramatis. Gunung Kelud (Jawa Timur), yang semula dikenal hobi menghamburkan ratusan juta meter kubik rempah vulkanik disertai aliran lahar panas dalam waktu hanya beberapa belas jam sebagai letusan dahsyat, mendadak berubah menjadi menumbuhkan kubah lava di dalam kawah pada Letusan 2007. Sebaliknya Gunung Merapi yang selama beberapa dekade terakhir dikenal rajin memproduksi kubah lava mendadak berubah dengan letusan dahsyatnya pada 2010 silam.

13763913461740126515

Sebagian pengungsi korban letusan Gunung Rokatenda yang telah berada di Maumere. Sumber : BNPB, 2013.

Pasca letusan 13 Februari 2013, aktivitas Gunung Rokatenda seakan menyurut dan tak ada perkembangan yang berarti sehingga mereka yang sempat mengungsi pun kembali lagi ke pulau ini, meski PVMBG belum menurunkan status gunung. Siapa sangka, hanya berselang enam bulan kemudian letusan yang lebih besar dan menelan korban jiwa justru terjadi. Kali ini giliran sisi utara kubah lava baru yang berulah dan longsor hingga mengibarkan awan panas dalam volume jauh lebih besar, bahkan hingga mencapai pesisir utara. Namun begitu dengan volume awan panas yang tergolong kecil, tsunami merusak tak terjadi sehingga korban jiwa yang lebih besar dapat dihindarkan. Kini, untuk menghindari korban jiwa dan luka-luka yang lebih besar, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengungsikan sebagian penduduk Palue ke Maumere. Sebagai pendukung, BNPB juga telah menyediakan 20.000 masker, 500 paket sandang, 500 paket kebutuhan keluarga, 500 paket anak-anak dan 1.000 selimut.

Sumber : PVMBG, 2012. BNPB, 2013. Global Volcanism Program Smithsonian Institution, 2013.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nasib Buruh Migran di Pintu Akhir …

Eddy Mesakh | | 19 December 2014 | 12:57

Dengan Google Street Kita Bisa …

Daniel H.t. | | 19 December 2014 | 09:34

Tim “Hantu” Menpora Berpotensi …

Erwin Alwazir | | 19 December 2014 | 12:47

Tiga Seniman “Menguak Takdir” …

Ajinatha | | 19 December 2014 | 09:08

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 8 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 14 jam lalu

Meramu Isu “Menteri Rini Melarang …

Irawan | 15 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: