Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Imanuel Monggesang

Pemurah senyum yang pendiam

Selamat Hari Raya Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-68, Mohon Maaf Lahir dan Bathin

OPINI | 18 August 2013 | 05:31 Dibaca: 327   Komentar: 2   1

1376778816373331559Sabtu, 17 Agustus 2013 pagi sekitar jam 07.03 Wita aku telah berkemas-kemas untuk menghadiri Upacara Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 Tahun 2013 di Kabupaten Banggai yang dilaksanakan di lapangan Alun-alun Bumi Mutiara Luwuk. Demi menghadiri acara ini aku tidak tidur semalaman, maklum kebiasaan burukku yang sering lupa bangun pagi. Aku hadir dalam kapasitas selaku Ketua Badan Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Luwuk Banggai. Setelah berpakaian kemeja batik GMKI dan mengenakan atribut organisasi aku pun berjalan kaki menuju lapangan yang hanya berjarak kurang lebih 100 M dari kampus Universitas Tompotika Luwuk.

Di luar lapangan aku bertemu dengan rekan pengurus GMKI Cabang Luwuk, KNPI Kabupaten Banggai dan Pemuda Pancasila Kab. Banggai. tak lama bersenda gurau kami pun menuju alun-alun dan mengambil tempat duduk di barisan ke tiga tribun VIP B sebelah kiri tribun utama.

Tak lama duduk kami diberikan souvenir dan snack dari panitia pelaksana. sambil menunggu Upacara dimulai kunikmati snack yang diberikan pandangan mataku mulai mengamati seluruh penjuru alun-alun. Dekorasi yang didominasi warna merah putih menghiasi tribun utama termasuk tribun yang kami tempati dan beberapa tenda. Dua buah baliho dari Bupati dan wakil Bupati tampak diseberang alun-alun berisi pesan HUT Kemerdekaan RI dan satu baliho dari Pengurus PPI Kab. Banggai didekat perempatan jalan serta beberapa spanduk ucapan dan umbul-umbul dipasang dipagar yang mengelilingi alun-alun.

Di lapangan para peserta pun mulai mengatur barisannya masing-masing. Ada pasukan TNI, Polri, Pol PP, Polhut, Pemuda Pancasila, Pemadam Kebakaran, Dinas Perhubungan, KORPRI, Mahasiswa, Siswa SD-SMP-SMA dan Pramuka serta Kelompok Penyanyi dan Drumband. Sementara di tribun dan tenda mulai dipenuhi pejabat eselon II, III dan IV, veteran, organisasi kepemudaan, TP-PKK, Pengurus Pramuka, Camat, Lurah / Kepala Desa, orang tua Paskibraka, para penerima penghargaan dan undangan lainnya. Panitia dan petugas upacara pun sibuk mengatur segalanya dan mengambil posisi masing-masing.

Tak berapa lama kemudian rombongan Bupati dan Wakil Bupati Banggai serta unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah bersama istri pun tiba dan langsung menempati tribun utama. Perwira Upacara pun langsung melaporkan kesiapan pelaksanaan upacara kepada Bupati Banggai yang bertindak sebagai Inspektur Upacara.

Di bawah cuaca yang cerah berawan Upacara Peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI di Kabupaten Banggai dimulai. Diawali dari laporan Komandan Upacara kemudian Paskibraka yang sukses mengibarkan duplikat bendera diringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dari Kelompok Penyanyi yang agak tidak bersemangat setelah itu Hening Cipta yang dipimpin oleh Bupati Banggai Bapak M. Sofhian Mile, dilanjutkan dengan Andika Bhayangkari. Pembacaan teks Proklamasi oleh Ketua DPRD Kabupaten Banggai Bapak Samsul Bahri Mang, naskah Pembukaan UUD RI 1945 oleh Ketua DPK KNPI Kab. Banggai Ibu Batia Sisilia Hadjar serta Pembacaan Doa oleh Kepala Kemenag Kab. Banggai.

Upacara pun selesai diisi dengan penyerahan penghargaan oleh Bupati Banggai yang didampingi Wakil Bupati dan Unsur Forkompimda kepada para penerima penghargaan.

Ritual tahunan ini pun selesai. Namun ada beberapa saran yang menurut saya perlu diperhatikan kedepannya dalam penyelenggaraan Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Banggai, yaitu:

1. Hari Kemerdekaan merupakan hari yang sangat berarti bagi seluruh Rakyat NKRI dalam sejarah perjuangan kebebasan dari penjajahan. Hendaknya perayaan Hari Kemerdekaan dikemas dalam bentuk pesta rakyat dimana rakyat merayakan kebebasannya dari ketertindasan dengan mengedepankan aspek sosialnya dibanding seremonial belaka.

2. Nasionalisme dan Patriotisme kita mungkin lagi dalam kondisi down. Bila perayaan Hari-hari besar agama banyak sekali baliho maupun spanduk ucapan yang terpampang disetiap sudut jalan dan rumah-rumah ibadah, namun ketika Hari Besar Nasional sangat kurang.

3. Terkait pelaksanaan Upacara Peringatan Proklamasi yang sempat saya ikuti tadi, ada beberapa catatan teknis :

a) Mikrofon Pembawa Acara bila tidak digunakan sebaiknya di-off-kan agar hembusan angin tidak mengganggu suasana khidmat.

b) Posisi pembaca acara dan segala macam hadiah/piala sebaiknya tidak berada disamping tribun utama agar tidak mengganggu pandangan dari undangan yang duduk di tribun belakang samping tribun utama, bisa saja dibuatkan satu tenda disamping kiri tribun VIP B.

c) Kameramen atau fotografer sebaiknya tidak bergerombol disamping tribun utama, selain berisik juga hilir mudik mengganggu pandangan para undangan. Gunakan lensa yang mampu menjangkau dari kejauhan.

d) Pasukan berbaris terutama kalangan PNS sebaiknya tidak semuanya diikutkan cukup keterwakilan agar tidak bergerombol atau diberikan tanggungjawab kepada masing-masing SKPD untuk menertibkan barisannya.

e) Pengibaran bendera yang merupakan inti acara sebaiknya dibuat kreatif lagi, misalnya pasukan 8 setelah menerima duplikat bendera, pasukan melakukan parade mengelilingi peserta upacara sebelum dikibarkan agar peserta dapat melihat bendera yang akan dikibarkan, maklum bendera adalah simbol negara yang mengandung nilai patriotisme disamping itu juga peserta ingin melihat kepiawaian baris berbaris Paskibraka.

f)  Kelompok Penyanyi/Paduan Suara sebaiknya yang sudah profesional agar kualitas suaranya terjamin

g) Inspektur Upacara sebaiknya membacakan teks proklamasi, karena pada saat proklamasi, Soekarno juga yang membacakannya teks proklamasi, kasihan juga Irup sudah capek-capek berdiri terus hanya berbicara “laksanakan”, “lanjutkan”, “bubarkan”

Mungkin itu saja masukan saya, kalau ada yang perlu ditambahkan silahkan atau ada yang perlu didiskusikan mari kita diskusikan bersama.

Selamat Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 Tahun 2013, Semoga menjadi Negara yang merdeka dengan Manusia yang merdeka!! Mohon maaf lahir dan batin.

Salam perjuangan

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 11 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 13 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 17 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 19 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: