Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Marufinsudibyo

Hanya seseorang yang suka melihat bintang....

Meletusnya Gunung Hobal, Gunung Berapi Bawahlaut Nusa Tenggara

REP | 26 August 2013 | 23:55 Dibaca: 430   Komentar: 2   3

Air dan kepulan uap mendadak menyembur dari permukaan Laut Sawu yang tenang pada sebuah titik di lepas pantai selatan pulau Lembata, Selasa pagi 20 Agustus 2013 pukul 07:14 WITA lalu. Semburan nan tebal itu membumbung hingga setinggi 2.000 meter dari paras Laut Sawu dan cenderung condong ke selatan. Sesaat kemudian air laut di sekitar titik semburan yang semula jernih membiru mulai menguning pucat. Dan setengah jam kemudian percikan-percikan pijar api mulai muncul di permukaan laut pada titik yang sama dengan semburan uap tadi. Panorama menakjubkan sekaligus menggidikkan ini dengan mudah dapat dilihat dari jauh, baik oleh para nelayan yang menghilir di sepanjang pesisir Laut Sawu maupun oleh penduduk di daratan pulau Lembata. Kabar pun menyebar, Gunung Hobal kembali meletus setelah 14 tahun tertidur.

Gunung Hobal? Ya. Inilah salah satu gunung berapi yang cukup aktif di jajaran pulau-pulau Nusa Tenggara. Namun jika anda membuka peta dan mengarahkan jemari menyusuri satu demi satu pulau di sini, takkan anda jumpai sebuah gunung pun yang menyandang nama Gunung Hobal. Sebab gunung itu tumbuh di dasar Laut Sawu dengan puncak yang tetap terendam air laut, sehingga seluruh tubuh gunung pada dasarnya tersembunyi di balik Laut Sawu. Inilah satu dari tujuh gunung berapi bawah laut yang telah diketahui di perairan Indonesia hingga sejauh ini dan menjadi gunung berapi bawah laut teraktif.

Parasiter

13775357121261481456

Gambar 1. Posisi Gunung Iliwerung dan dua gunung parasiternya (yakni Gunung Iligripe dan Gunung Hobal) di Tanjung Atadei, pulau Lembata (NTT) berdasarkan peta kontur Google Maps. Nampak Teluk Waiteba dan area yang menjadi sumber longsoran berskala raksasa yang menciptakan bencana tsunami Waiteba 1979 pada 18 Juli 1979 silam. Sumber: Google Maps, 2013.

Gunung Hobal berada pada koordinat 8,37 LS 123,58 BT dan secara administratif terletak di kecamatan Atedai, kabupaten Lembata (NTT). Secara geografis gunung berapi ini berposisi di ujung Tanjung Atadei pada pesisir selatan pulau Lembata (Lomblen), sebuah pulau yang menjadi bagian rantai kepulauan Nusa Tenggara dan terletak di timur pulau Flores dengan diselingi pulau Adonara. Tanjung Atadei menjorok ke Laut Sawu, perairan laut yang terkenal dengan perburuan ikan pausnya. Secara geologis tanjung ini dibentuk oleh aktivitas Gunung Iliwerung, sebuah gunung berapi besar yang secara historis menjadi “induk” Gunung Hobal. Gunung berapi besar dengan puncak setinggi 1.1018 meter dpl ini tumbuh di sisi selatan Kaldera purba Lerek dan terkenal rajin meletus. Semenjak 1870 hingga sekarang Iliwerung tercatat telah 17 kali meletus, atau rata-rata terjadi sebuah letusan setiap 8 tahun.

Dari Gunung Iliwerung inilah lahir Gunung Hobal, yang dalam khasanah kegunungapian merupakan gejala gunung (berapi) parasiter. Sebuah gunung berapi umumnya menyalurkan magmanya lewat saluran utama yang berujung di kawah utama di puncak. Pada saat-saat tertentu magma bisa tak sanggup menembus sumbatan tebal di dasar kawah utama yang tersisa dari tahapan letusan sebelumnya, sehingga terpaksa bergerak menyamping dari saluran utama melalui percabangan hingga meluap keluar permukaan Bumi lewat retakan/celah samping yang terletak di salah satu bagian lereng, khususnya lereng berstabilitas rendah. Sehingga terjadilah letusan samping/letusan lereng. Bila letusan tak hanya sekali namun berulang-ulang lewat celah yang sama sembari menumpuk lava disekelilingnya hingga lama-kelamaan kian tinggi membukit, maka terbentuklah kubah lava besar yang adalah gunung parasiter atau gunung adventif atau anak gunung berapi. Gunung parasiter merupakan fenomena yang umum dijumpai di lingkungan gunung-gunung berapi Indonesia, meski tak semua gunung berapi mengandung gunung-gunung parasiter di lereng-lerengnya.

Jika pengeluaran magma melalui gunung parasiter terus berlanjut maka lama-kelamaan tubuh gunung parasiter bakal kian membesar sehingga bisa menyamai ukuran tubuh gunung berapi induknya dan menghasilkan fenomena gunung berapi kembar. Gunung Gede dan Pangrango (Jawa Barat), yang terletak tak jauh dari Jakarta, merupakan contoh terkenal gunung berapi kembar yang berkembang dari gunung parasiter. Kedua gunung berapi tersebut mendapatkan pasokan magma dari dapur magma yang sama. Namun demikian tidak setiap sepasang gunung berapi yang letaknya saling berdampingan merupakan gunung kembar yang terbentuk dari gunung parasiter. Misalnya Gunung Merapi dan Merbabu, ataupun Gunung Sumbing dan Sindoro (keduanya di Jawa tengah). Masing-masing gunung berapi itu berdiri sendiri-sendiri dan memiliki dapur magmanya sendiri-sendiri, terlepas dari letaknya yang saling berdampingan.

1377535855606391729

Gambar 2. Puncak Gunung Iliwerung dengan kubah lava (warna hitam) produk Letusan 1870. Sumber: Global Volcanism Program Smithsonian Institution, 2013.

Keajaiban

Gunung Iliwerung tergolong rajin menumbuhkan gunung parasiter. Semula aktivitas gunung berapi ini terpusat di puncak Iliwerung yang terdiri dari dua kawah utama, yakni kawah Iliwerung dan kawah Adowajo. Muntahan magma yang menumpuk menjadi lava membukit membentuk kubah lava di puncak ini pada letusan 1870. Namun semenjak 1948 pusat aktivitas pindah ke lereng sektor timur-tenggara, sekitar 3 kilometer dari puncak, dengan terbentuknya kubah lava yang kemudian terus berkembang menjadi gunung parasiter yang bernama Gunung Iligripe. Gunung parasiter ini mulai muncul pada 9 Mei 1948 dan cepat sekali bertumbuh. Dalam dua hari saja tingginya telah 50 meter dari dasar. Dan kini gunung parasiter itu telah setinggi 190 meter.

1377535942192039401

Gambar 3. Gunung Iligripe, salah satu gunung parasiter di Gunung Iliwerung, diabadikan pada 1979. Gunung parasiter ini terbentuk dalam letusan 1948 yang dramatis. Sumber: Global Volcanism Program Smithsonian Institution, 2013.

Pada 5 Desember 1973 bentuk baru aktivitas vulkanik di kawasan ini mengemuka saat para nelayan menyaksikan semburan air dan uap dari perairan Laut Sawu yang menutupi lereng sektor tenggara Gunung Iliwerung, sejauh sekitar 3 kilometer di sebelah selatan Gunung Iligripe. Semburan demi semburan terus berlangsung hingga delapan bulan berikutnya dan lama-kelamaan memunculkan tiga buah pulau baru yang berasap dan membara dengan puncak setinggi antara 20 hingga 60 meter dpl. Tak ada keraguan bahwa sebuah gunung parasiter baru telah terbentuk. Masyarakat suku Atedei yang tinggal didekatnya menamakan pulau-pulau ini sebagai Hobal (yang berarti “timbul” dalam bahasa Atedei), yang kemudian menjadi nama gunung parasiter baru tersebut. Oleh strukturnya yang rapuh serta ditunjang gempuran ombak Laut Sawu yang tiada ampun, ketiga puncak Gunung Hobal yang semula menyembul di atas paras air Laut Sawu itu menghilang di balik birunya air laut hanya berselang beberapa minggu setelah aktivitas letusannya berakhir.

Aktivitas Gunung Hobal berlanjut pada 8 Maret 1976 saat letusan kembali terjadi dan memunculkan 7 pulau baru yang seakan berjajar menuju ke pantai. Namun hanya berselang sebulan kemudian ketujuh pulau baru, yang adalah puncak-puncak Gunung Hobal, ini kembali menghilang seiring guncangan gempa tektonik dan terjangan ombak. Letusan berikutnya kembali terjadi pada 17-18 Agustus 1983 namun tanpa disertai munculnya pulau baru. Letusan sejenis yang lebih kecil terjadi pada 16 September 1993. Letusan serupa juga terjadi kembali pada Mei 1995 dan kemudian pada 22 Mei 1999, dimana muntahan magma Letusan 1999 sedikit lebih besar dibanding Letusan 1995. Namun lagi-lagi keduanya tanpa disertai pembentukan pulau baru. Dengan demikian Gunung Hobal tetap merupakan gunung berapi bawah laut.

13775360021834946412

Gambar 4. Siluet tubuh Gunung Iliwerung dan kepulan asap Gunung Hobal, diabadikan pada Mei 1999 saat aktivitas Gunung Hobal menanjak. Sumber: Warta Geologi, 2010.

Lahirnya Gunung Hobal menjadikan Indonesia memiliki tujuh gunung berapi bawah laut. Enam lainnya adalah Gunung Banua Wuhu /Mahangetang, Submarin 1922 dan Kawio Barat (ketiganya di perairan Sangihe, Sulawesi Utara) serta Gunung Yersey, Emperor of China dan Nieuwerkerk (ketiganya di perairan Laut Banda, Maluku). Dari ketujuh gunung berapi bawah laut tersebut hanya Gunung Hobal-lah yang paling aktif. Kelahiran gunung parasiter ini juga merupakan penanda keajaiban vulkanik di tanah Nusa Tenggara seiring uniknya posisi geologisnya. Peristiwa ini bukanlah monopoli Hobal semata. Berselang 15 tahun pasca kelahiran Gunung Hobal, sebuah keajaiban serupa muncul di tengah dataran pulau Flores, tepatnya di dekat kota Ruteng. Semenjak 28 Desember 1987 dunia menyaksikan lahirnya gunung berapi baru, yang kini dinamakan Gunung Anak Ranakah, di kawasan vulkanis yang telah 15.000 tahun lamanya tak pernah memuntahkan magmanya.

Peringatan

Di balik keajaiban vulkanis tersebut, tersembunyi masalah pelik yakni bagaimana mengantisipasi dampak letusan di sekujur tubuh Gunung Iliwerung terhadap perikehidupan masyarakat setempat. Potensi bahaya letusan Gunung Iliwerung maupun gunung-gunung parasiternya tidaklah main-main. Pada saat Letusan 1948, 4 juta meter kubik material vulkanik dimuntahkan dengan sebagian diantaranya menjadi awan panas. Terjangan awan panas memanggang habis 300 ekor ternak dan menghancurkan 100 petak lahan pertanian di lereng timur. Tsunami pun berkali-kali terjadi semenjak lahirnya Gunung Hobal seiring aktivitasnya, meski sejauh ini tidak menyebabkan masalah serius karena terjangan maksimum gelombangnya ke daratan hanya sejauh 30 meter dari bibir pantai. Letusan Hobal 1976 misalnya, menghasilkan tsunami yang cukup besar. Namun karena terjadi di siang hari, maka warga dapat menyelamatkan diri sehingga korban jiwa pun tak berjatuhan. Tsunami akibat letusan terulang kembali pada Letusan Hobal 1995, saat air Laut Sawu bergolak dan memproduksi gelombang setinggi 5 meter. Namun demikian saat tiba di bibir pantai, ketinggiannya telah sangat menyusut sehingga tak ada kerusakan berarti yang ditimbulkannya.

Tsunami terparah, yang justru tak terkait langsung dengan letusan gunung berapi, terjadi pada 18 Juli 1979. Saat itu lereng sektor timur laut yang berbatasan dengan Teluk Waiteba rontok dalam jumlah amat besar hingga sepertiganya tercebur ke laut. Bagian lereng yang runtuh sebagai longsoran besar memiliki panjang sekitar 3 kilometer dan lebar sekitar 300 meter dengan volume sekitar 50 juta meter kubik. Masuknya massa tanah dalam jumlah sangat besar ke Laut Sawu di Teluk Waiteba menghasilkan tsunami yang bersifat lokal namun konsekuensinya tinggi gelombangnya cukup besar hingga mencapai 7 meter atau lebih. Akibatnya sekujur pesisir Teluk Waiteba diterjang tsunami yang menyebabkan 539 orang tewas dan 364 orang lainnya dinyatakan hilang. Bencana tsunami Waiteba 1979 merupakan tsunami paling mematikan di Indonesia sepanjang abad ke-20 sebelum tsunami Flores 1992 (juga di Nusa Tenggara Timur) melampauinya pada 12 Desember 1992 dengan lebih dari 2.000 orang tewas.

1377536083868894467

Gambar 5. Semburan air dan uap panas dari lokasi Gunung Hobal saat Letusan 1999, diabadikan dari lereng Gunung Iliwerung. Nampak air laut di sekeliling pusat semburan berwarna lebih pucat ketimbang air laut pada umumnya. Sumber: Warta Geologi, 2010.

Geliat Gunung Hobal di ini telah terekam semenjak awal Agustus 2013 seiring peningkatan jumlah gempa vulkanik dangkalnya, yang menandakan terjadinya gerakan fluida (magma) menuju permukaan. Jumlah gempa vulkanik dangkal mencapai puncaknya pada 19 Agustus 2013, sehari sebelum letusan, yang mencapai 173 kali hanya dalam sehari. Dengan karakteristik letusannya yang sanggup memproduksi tsunami, maka Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan pelarangan aktivitas wisata dan pelayaran dalam radius 2 kilometer dari Gunung Hobal. Warga pesisir selatan pulau Lembata juga diminta untuk tetap menjaga jarak dengan bibir pantai minimal sejauh 30 meter. Perhatian khusus ditujukan kepada warga Desa Dulir yang hanya berjarak 2 kilometer dari Gunung Hobal. Warga desa diminta tetap waspada namun tak mudah terpancing kabar burung yang berkeriungan soal Gunung Hobal dan Iliwerung. Ya. pada saat aktivitas Gunung Hobal telah memasuki fase letusan sehingga PVMBG menaikkan statusnya dari Aktif Normal (tingkat 1) menjadi Waspada (tingkat 2) mulai 20 Agustus 2013, maka hal serupa pun terjadi di Gunung Iliwerung yang menjadi “induk” Hobal. Meski masih sebatas pada peningkatan jumlah gempa vulkanik dangkal, PVMBG tak mau berspekulasi dan memutuskan untuk menaikkan status Gunung Iliwerung juga ke Waspada (tingkat 2) mulai 19 Agustus 2013.

Sumber : PVMBG, 2013. Warta Geologi, 2010. Smithsonian Institution, 2013.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 12 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 14 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Tiga Rekor Sekaligus Mampu Ditorehkan …

Idlaw | 7 jam lalu

Demokrasi Sesungguhnya adalah “One …

Feri Setiawan | 7 jam lalu

PM Vanuatu Desak PBB Tuntaskan Dekolonisasi …

Arkilaus Baho | 8 jam lalu

Plus Minus Pilkada Langsung dan Melalui DPRD …

Ahmad Soleh | 8 jam lalu

Bantaran …

Tasch Taufan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: