Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Marufinsudibyo

Hanya seseorang yang suka melihat bintang....

Semburan Lumpur Butuh Purworejo (Jawa Tengah), Sebuah Pendahuluan

HL | 06 September 2013 | 22:25 Dibaca: 4468   Komentar: 30   22

Air bercampur lumpur hitam mendadak menyembur di kebun pak Ponco Sumarno (52 tahun), warga RT 02 RW 01 dusun Jogomudo desa Lubang Kidul, kecamatan Butuh, kabupaten Purworejo (Jawa Tengah) semenjak Kamis sore 5 September 2013. Semburan terjadi dari sebuah lubang sumur bor yang sedang dibuat pemilik kebun dengan tujuan untuk mengairi kolam ikan guramenya yang kekurangan air. Pekerjaan pembuatan sumur bor dilakukan oleh Eko Siswanto (37 tahun), warga desa Boto Daleman kecamatan Bayan (dari kabupaten yang sama), sebagai tukang pembuat sumur bersama tiga orang pekerjanya. Saat pengeboran mencapai kedalaman 8 meter, mendadak air mulai mengalir keluar dari lubang bor. Salah seorang pekerja sempat mencoba merasainya dan air dingin ini ternyata berasa asin layaknya air laut. Pada saat yang sama pula terasa ada tekanan kuat dari dalam lubang bor, sehingga pengeboran disepakati dihentikan dengan anggapan sumber air sudah ditemukan.

1378480566859385481

Gambar 1. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala siang, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak semburan masih setinggi pohon pisang. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Namun dengan tujuan memperbanyak jumlah cadangan air, Eko berinisiatif menambah kedalaman sumur sepanjang satu pipa lagi. Dan pak Ponco pun menyetujuinya. Begitu pengeboran dilanjutkan, tekanan dari dalam lubang bor jutru terasa kian menguat. Dan saat pengeboran mencapai kedalaman 15 meter, air bercampur lumpur hitam pun mulai mengalir dan akhirnya menyembur. Di awal mula semburan lumpur yang laksana air mancur mencapai ketinggian 6 meter, namun berselang beberapa saat kemudian merosot menjadi tinggal 3-4 meter. Di malam hari bahkan terlihat api menyala-nyala dari lubang bor, sehingga suasana jadi mencekam.

Kontan peristiwa ini segera menghebohkan masyarakat Butuh. Kabar pun terus meluas ke segenap penjuru dan masyarakat pun mulai datang berbondong-bondong ke lokasi. Muncul kekhawatiran bahwa semburan lumpur Butuh ini (demikian saja kita namakan) akan membesar dan meluas hingga menjadi petaka yang tak kalah besarnya dengan kasus semburan Lumpur Lapindo Sidoarjo (Jawa Timur) yang masih terus berlangsung hingga kini meski telah berjalan lebih dari 7 tahun. Apalagi lokasi semburan lumpur Butuh tepat di tengah-tengah pemukiman penduduk.

Kebumen Low

Lokasi semburan lumpur Butuh terletak di dataran rendah sejauh sekitar setengah kilometer di sebelah timur aliran sungai Butuh atau sekitar 9 kilometer di sebelah utara pesisir Samudera Hindia. Dari jalur jalan raya utama yang menjadi poros selatan Jawa Tengah khususnya dari Pasar Butuh yang terkenal dengan kuliner dawetnya, lokasi semburan lumpur masih berjarak sekitar 1 kilometer ke selatan.

137848072316698145

Gambar 2. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala malam, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak lidah api menyala-nyala tepat dari lubang semburan. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Apa yang sebenarnya menyebabkan semburan lumpur Butuh masih harus menanti hasil analisis kandungan gas-gas dan cairan yang dikeluarkan. Namun meninjau geologi setempat, apa penyebab peristiwa ini bisa diperkirakan. Mengutip penjelasan pak Awang Harun Satyana, geolog senior yang kini bertugas di SKK Migas, yang di-cross-check-an dengan sumber-sumber lain diketahui bahwa dataran rendah yang membentang di Kabupaten Kebumen dan Purworejo secara geologis dikenal sebagai Rendahan Kebumen (Kebumen Low). Dataran rendah ini berbataskan pada Tinggian/Pegunungan karst Karangbolong di barat, Pegunungan Serayu Selatan di utara dan Tinggian/Pegunungan Menoreh di timur.

Pegunungan karst Karangbolong merupakan tinggian yang terbentuk sebagai hasil aktifnya sistem patahan besar yang membentang dari Kebumen hingga ke Pegunungan Meratus (Kalimantan Selatan) bersama dengan sistem patahan yang membentang dari Cilacap hingga Lematang (Sumatra Selatan). Kedua patahan besar ini aktif di zaman purba (yakni sekitar 65 juta tahun silam) dan kini telah mati, namun jejak aktivitasnya masih membekas dalam banyak hal, salah satunya adalah terangkatnya daerah Gombong selatan hingga Karangbolong sampai setinggi 2.000 meter lebih, meski kini telah tererosi berat dan tinggal setinggi 600-an meter. Sementara Pegunungan Menoreh dibentuk oleh aktivitas vulkanik jutaan tahun silam yang memunculkan tiga gunung berapi tua yang kini telah padam/mati dan kini hanya menyisakan fosilnya semata.

Rendahan Kebumen di masa silam dalam era sejarah merupakan perairan laut pedalaman. Apa yang kini menjadi lokasi kota Kebumen di masa silam merupakan muara sungai Lukulo purba. Intensifnya sungai Lukulo purba mengalirkan sedimen yang dikikis dari Pegunungan Serayu Selatan menyebabkan terbentuknya delta di muaranya. Kini bekas delta tersebut menjadi kawasan dengan kandungan tanah liat bermutu tinggi yang menghidupi industri genteng, sehingga hanya terbatasi mulai dari sisi timur kota Kebumen (Tanahsari) hingga sisi barat (Soka). Sungai-sungai besar lainnya pun demikian. Laut pedalaman ini pun mungkin mendapatkan materi sedimen tambahan dari sungai Progo purba, yang menghanyutkan material vulkanik produk letusan Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing. Konsekuensinya laut pedalaman itu kian mendangkal dan lama-kelamaan berubah menjadi daratan dengan rawa-rawa di sana-sini. Rawa-rawa itu menghidupi banyak tumbuhan, yang lantas membentuk lapisan tanah gambut. Saat pemadatan dan pengendapan terus-menerus terjadi, tanah gambut yang berlapis-lapis tertimbun sehingga menjadi sumber zat-zat organik tempat bakteri tumbuh subur. Aktivitas bakteri menyebabkan zat-zat organik terurai menjadi beraneka-ragam gas, terutama metana.

1378480887561820446

Gambar 3. Peta topografi Rendahan Kebumen (Kebumen Low) yang

Produksi metana yang terus-menerus membuat gas ini kian banyak sehingga lama-kelamaan membentuk sejenis reservoar atau kantung gas bawahtanah, dalam berbagai ukuran dan bertekanan tinggi. Sepanjang tak ada jalan yang menghubungkan kantung gas ini dengan udara luar, metana bakal seterusnya terjebak didalamnya. Namun begitu kantung gas ini tertembus lubang sumur maupun penyebab alamiah seperti misalnya terobekkan oleh reaktivasi patahan (dalam gempa bumi), maka jadilah metana menemukan jalan tol-nya ke permukaan. Semburan gas metana bertekanan tinggi pun akan terjadi, yang sanggup mendorong air dan segala partikulat sedimen yang dilaluinya sehingga membentuk pancuran lumpur. Keberadaan metana pun ditunjang secara kasat mata dengan adanya nyala api yang terlihat dari semburan tersebut.

Berbeda

Dengan kondisi geologi semacam itu maka semburan lumpur Butuh jauh berbeda dibandingkan yang terjadi pada kasus Lapindo Sidoarjo (Jawa Timur). Meski terdapat dua kubu yang berbeda pandangan tentang penyebabnya yakni antara pengeboran eksplorasi migas yang tak taat prosedur di satu sisi dan bencana gempa Yogya 2006 di sisi lain, namun kedua kubu mengamini bahwa air yang terlibat dalam kasus Sidoarjo berasal dari kedalaman berkilo-kilometer di bawah tanah. Air tersebut terdorong ke permukaan Bumi bukan oleh tekanan gas metana, melainkan oleh aksi vulkanik terutama lewat pemanasan magma dari Gunung Penanggungan di dekatnya. Maka bila kasus Sidoarjo merupakan fenomena gunung lumpur (mud volcano) yang tetap bertahan hingga sekarang meski telah berlangsung lebih dari 7 tahun sebagai akibat ketersediaan lapisan sedimen sumber lumpur yang mampu menjaga pasokan tetap stabil serta stabilnya sumber tenaga penggeraknya di bawah Gunung Penanggungan, maka semburan lumpur Butuh hanya ditenagai dorongan gas metana yang jumlahnya terbatas.

Karena itu seiring berjalannya waktu, aliran gas metana di semburan lumpur Butuh bakal kian mengecil sehingga tekanannya pun kian rendahnya. Dan pada akhirnya semburan bakal berhenti dengan sendirinya, mungkin dalam beberapa hari atau beberapa minggu. Semburan semacam ini sebenarnya bukan yang aneh untuk kawasan Rendahan Kebumen. Pada tahun 1996 silam, sebuah sumur bor yang sedang digali di dekat Kantor Pos Kutowinangun (Kebumen) mendadak juga menyemburkan air setelah mencapai kedalaman tertentu. Namun berselang beberapa hari kemudian semburan pun berhenti sendiri.

Air produk semburan yang terasa asin menjadi indikasi bahwa daerah Butuh sebagai bagian dari Rendahan Kebumen dulunya memang laut. Mengingat intrusi air laut tak terjadi di sini, setidaknya berdasarkan ketiadaan gejala-gejala yang nampak di permukaan tanah, maka air asin tersebut mungkin merupakan air laut purba (connate water) yang terjebak saat Rendahan Kebumen masih berupa laut.

Mengingat semburan berkemungkinan besar bakal berhenti dengan sendirinya, tak ada yang perlu dikhawatirkan di Butuh, Purworejo. Namun sebagai upaya pengamanan, pihak berwenang dapat memasang pipa penyalur vertikal langsung dari lubang semburan, sehingga gas metana langsung terbuang ke udara hingga ketinggian tertentu tanpa sempat menyebar horizontal dan terkonsentrasi. Mengingat gas ini dapat terbakar pada situasi tertentu. Pipa penyalur juga bermanfaat untuk menghembuskan gas-gas lain (seandainya) ada ke ketinggian, misalnya Hidrogen Sulfida yang berbau busuk dan beracun pada kadar tertentu.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 11 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 12 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 15 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 16 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Ditemukan: Pusat Tidur Dalam …

Andreas Prasadja | 11 jam lalu

Museum Louvre untuk First-Timers …

Putri Ariza | 11 jam lalu

Cinta dalam Botol …

Gunawan Wibisono | 11 jam lalu

Wisata Bahari dengan Hotel Terapung …

Akhmad Sujadi | 11 jam lalu

Jurus Jitu Agar Tidak Terjadi Migrasi dari …

Thamrin Dahlan | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: