Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Gusmantia

I am Simple. Love NKRI.

Pancasila sebagai Pemersatu

REP | 20 September 2013 | 20:31 Dibaca: 257   Komentar: 4   0

Pancasila sebagai dasar negara tidak lahir dalam kondisi yang nyaman dan tenang, namun lahir dalam pergolakan dinamika yang luar biasa besar dan berat, ditengah tengah himpitan tekanan penjajah yang ingin merongrong bangsa dan negara, untuk dijadikan budak para penjajah. Pancasila lahir untuk menjawab rongrongan tersebut, dengan pergolakan pikiran yang luar biasa dari para funding father negeri ini, Bung Karno bersama para tokoh perjuangan lainnya meramu dan meracik nilai nilai yang digali dari Bumi pertiwi tercinta ini, untuk menjadi pondasi dan pijakan, yang sekarang kita kenal dengan pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan harapan bangsa ini dapat bersatu, sejahtera, adil, makmur, dan damai dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Nilai - nilai yang di wariskan kepada anak cucu generasi penerus bangsa ini begitu luas dan dalam pemaknaannya, yang kalau kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-sehari maka niscaya akan memberikan kedamaian tak terhingga kepada kita semua. Nilai nilai itu seperti, Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusian Yang Adil Dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.


Dengan mulianya nilai nilai yang terkandung dalam Pancasila diharapkan rakyat Indonesia dapat hidup dalam persatuan untuk menciptakan kedamaian antar semua mahluk yang hidup di dunia ini, baik harmonis dan damai dengan sesama ( dengan tetangga, dengan teman, dengan atasan,dll), juga harmonis damai antara kita rakyat Indonesia denganLingkungan alam semesta, dengan tumbuhan, dengan hewan, sehingga ada tuntutan agar kita merawat dan menjaga lingkungan sekitar serta yang terakhir harmonis dan damai kita dalam menghaturkan sembah sujud kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, Alllah Swt, sehingga kita sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan ciptaan Allah lainnya mampu memunculkan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun semua mimpi para funding Father kita yang begitu mulia sempat tercoreng “tragedi” berdarah dengan meninggalnnya Letnan Jenderal Achmad Yani, Mayor Jenderal Suprapto, Mayor Jenderal MT Haryono, Mayor Jenderal S.Parman, Brigadir Jenderal Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pieere Tendean, yang kita kenal selama ini sebagai pahlawan revolusi. Hal ini menunjukan nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila belum maksimal dipegang kuat oleh semua masyarakat Indonesia, perlu dorongan lebih besar untuk  memasyarakatn nilai nilai tersebut, sehingga manfaat dalam implementasi nilai-nilai ini dapat dipahami masyarakat. Namun sejarah mencatat bagaimana spirit Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika masih kuat terdapat dalam masyarakat, sehingga dengan perjuangan dan persatuan masyarakat bersama negara, maka tragedi 30  S PKI ( 30 September Partai Komunis Indonesia) dapat terselesaikan dengan baik. Hal ini menunjukan semangat Pancasila masih kuat dalam diri masyarakat Indonesia.

Pancasila sebagai dasar negara dan kehidupan berbangsa dan bernegara mengandung nilai nilai yang begitu  baiknya, sehingga apabila ini serius dan konsisten diterapakan, tragedi yang mencoba merusak tatanan nilai pada Pancasila tidak akan terjadi kembali, karena nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, merupakan nilai-nilai Ketuhanan, kemanusian, persatuan,  kerakyatan, dan keadilan. Ini merupakan nilai dasar dalam kehidupan benegara dan bemasyarakat menuju masyarakat yang damai dan harmonis.

Cobaan merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan Gerakan 30 September (G 30 S PKI) dijawab dengan tegas oleh masyarakat Indonesia sesuai semangat Pancasila yaitu kesatuan, masyarakat bersatu untuk menjaga keutuhan Pancasila dari rongrongan siapapun, sehingga apabila dewasa ini masih terdapat upaya untuk menggoyang Pancasila, Bhinneka Tungga Ika dan NKRI, maka rakyat Indonesia akan bersatu untuk melawannya. Namun sebagai bangsa yang besar dan beradab, kita harus bisa membaca dinamika yang ada dan mampu untuk berpikir jauh kedepan, sehingga apa yang tejadi pada masa lampau, seperti Tragedi G 30 S PKI, agar menjadi pengalaman dan cerminan bagi kita untuk menapak masa depan yang lebih baik lagi dengan bergandengan tangan satu sama lain sesuai spirit Pancasila yaitu Persatuan Indonesia, untuk itu kita mewujudkan kedamaian abadi secara dunia akhirat. Kita sebagai bangsa yang besar dan beragam, serta kaya akan adat budaya yang begitu luhurnya, maka kita harus bangga sebagai bangsa Indonesia dengan selalu berpegang teguh terhadap Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika demi Jayanya NKRI.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 9 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 16 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 12 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 12 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 12 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 12 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: