Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Alviana Cahyanti

SMA N 1 Purworejo (Muda Ganesha '10) | Mahasiswi aktif jurusan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta | Fokasi |

Bagaimana Jika 10 Tahun ke Depan Indonesia Digenangi oleh Air?

REP | 02 October 2013 | 20:26 Dibaca: 207   Komentar: 0   0

Kita tentu tidak asing melihat sungai-sungai kecil maupun besar di lingkungan tempat tinggal kita. Bahkan yang tinggal diperkotaan sekalipun, saya yakin, masih bisa menemukan sungai, atau minimal ‘sejenis’ sungai; saluran air dalam bentuk yang lain seperti parit, selokan dan sejenisnya.

Saluran air, sesuai dengan namanya, dia berfungsi menjadi tempat mengalirnya air dari sumber-sumber air (katakanlah sumur, mata air, bahkan bak-bak mandi perumahan, warung-warung makan ataupun restoran) ke tempat muaranya air –yaitu sungai besar yang akan mengalirkannya ke danau, hingga ke laut. Dari tempat muara air itu nantinya air akan mengalami evaporasi (penguapan) oleh sinar matahari yang kemudian akan mengalami titik jenuh di udara, atau yang kita sebut sebagai awan. Semakin lama air tersimpan di udara dalam bentuk uap air, akan semakin jenuh uap air tersebut, sampai datangnya angin yang menyapu awan-awan jenuh yang penuh uap air tadi maka kemudian terjadilah hujan.

Begitulah seharusnya siklus air di bumi kita ini. Setidaknya, itulah yang saya ketahui tentang siklus air sejak bangku sekolah dasar kelas IV. Namun, siklus air itu sekarang tidak lagi sempurna masuk kedalam sistem alam yang benar. Siklus air yang harusnya dapat menyeimbangkan sirkulasi air yang ada di muka bumi, sekarang terhambat oleh yang namanya sampah, sehingga sirkulasi air tidak seimbang. Tidak heran jika kemudian mengakibatkan banjir dimana-mana. Sebagai contoh, banjir di Ibu Kota. Sudah terlalu biasa mendengar Ibu Kota banjir bukan?

Tetapi sekali lagi, siapa yang benar-benar peduli pada sampah?

Beberapa waktu lalu, tepatnya weekend kemarin, seperti halnya minggu-minggu bulan lalu, saya pulang kampung ke Wonosobo, tepatnya Desa Wadaslintang.

Saya pulang sabtu pagi setelah kuliah. Pagi-pagi sekitar jam setengah 7-an, saya sudah keluar kos, dan seperti biasa saya menunggu bis kota di pinggiran jalan Gejayan, Yogyakarta. (karena akan langsung pulang kampung, maka saya tidak pergi ke kampus dengan sepeda). Suasana pagi yang segar menggerakkan kaki saya untuk berjalan-jalan kecil sambi menunggu bus datang. Sampailah saya di dekat selokan Mataram. Apa yang saya lihat? Air tidak mengalir bersih, melainkan banyak sekali sampah plastik. Dalam hati, saya bicara sendiri, “pantas saja kalau banyak sampah, kecenderungan orang menjadikan parit atau sungai sebagai alternatif tempat membuang sampah bagi orang yang tinggal dekat dengan perairan seperti ini lebih tinggi dibandingkan yang tidak.

Sampai di situ, sudah, saya belum banyak berpikir, karena segera datang bus kota yang saya tunggu. Berangkatlah saya ke kampus dan mengikuti kuliah pak Iswandi Syahputra. Sepulang kuliah saya langsung pulang kampung, naik bus kota dari kampus menuju Giwangan, dan dari Giwangan menuju Prembun, baru nyambung lagi bus jurusan Wonosobo, turun Wadaslintang.

Ketika saya turun di Prembun untuk transfer ke bus jurusan Wonosobo, saya berjalan melewati jembatan, di pinggir jembatan itu langkah saya terhenti oleh pemandangan yang sama ketika saya berada di tepi selokan Mataram tadi. Bahkan kali ini lebih parah, di Prembun, saya baru benar-benar tercengang melihat ‘nasib’ sungai. Air sungai tidak lagi mengalir, kali ini bahkan sudah berhenti alirannya. Yang ada hanyalah genangan sampah! Bukan lagi genangan air. Ironos memang.

Kali ini saya penasaran, apakah banyak sungai ber’nasib’ sama. Dan sekali lagi saya membuktikannya, ketika saya sudah naik bis menuju Wadslintang, Wonosobo, saya niatkan untuk berhenti di jembatan dekat bumi perkemahan “Cindai Mas”. Saya ingin melihat, apakah hipotesis saya benar. Sudah dua sungai yang saya jumpai bernasib sama –terhiasi sampah. Kali ini adalah sungai ketiga yang memang sengaja saya datangi untuk bisa mengatakan apakah statusnya sama dengan dua sungai sebelumnya.

Memang iya, sungai yang saya sengaja datangi ini juga tergenangi oleh sampah. Jadi setidaknya hipotesis saya menjadi “ada tiga sungai dari 10 sungai yang ada di sekitar kita.” itu artinya dari setiap wilayah di seluruh belahan bumi ada sekitar minimal 1/3 bagian bumi yang sungainya tergenangi oleh sampah. Kita tidak perlu bersyukur dengan angka minimal 1/3 itu tadi, walaupun masih lebih bersyukur darpada mencapai ½ bagiannya sendiri. Dengan keadaan ini, bisa jadi untuk –paling cepat -10 tahun kedepan, beban sampah yang ada benar-benar bisa merusak keseimbangan ekologi sungai di permukaan bumi kita. apakah kita siap dengan banjir besar di depan kita beberapa tahun mendatang???

Apakah sungai atau tempat sampah kah yang kita pilih untuk membuang sampah?

Banjir itu pilihan. Gaya hidup anda turut menetukan.

###

13807196606372791613807199641744255568

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Stanley, Keindahan Sisi Selatan Hongkong …

Moris Hk | | 29 August 2014 | 14:46

Kisah Hidup Pramugari yang Selamat dari …

Harja Saputra | | 29 August 2014 | 12:24

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 6 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 9 jam lalu

Jokowi Mengkhianati Rakyat Jika Tidak …

Felix | 10 jam lalu

Ganteng-Ganteng Hakim MK …

Balya Nur | 10 jam lalu

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

56 Tahun Michael Jackson, Antara …

Dody Kasman | 7 jam lalu

Puisi itu Berjudul “Proklamasi” …

Zulfaisal Putera | 7 jam lalu

Kala Kau Menghujat Kotaku …

Gordi | 8 jam lalu

Basuki Tjahaja Purnama …

Mila Vanila | 10 jam lalu

Sama-sama Pribumi, Kenapa …

Kwee Minglie | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: