Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Hikmah Komariah

seseorang yang suka mengeluh atas berbagai ketidakidealan dan kerusakan yang ada, mencoba berpikir out of selengkapnya

Banten Mendadak Terkenal!

OPINI | 05 October 2013 | 23:35 Dibaca: 837   Komentar: 11   2

Saya adalah mahasiswa yang lahir dan besar di kota Tangerang. Salah satu kota yang masuk dalam wilayah Provinsi Banten. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di kota pahlawan, Surabaya. Dan sebagai mahasiswa perantauan dari Banten, harus saya akui satu hal: Banten mendadak terkenal setelah kasus tertangkapnya Tb Chaery Wardana yang tak lain adik kandung Gubernur Banten oleh KPK. Wawan ini sudah ditetapkan menjadi tersangka pemberi suap dalam kasus sengketa pilkada di Lebak.

Kenapa saya bilang Banten mendadak terkenal? Biar saya ceritakan sedikit pengalaman saya di Surabaya sebagai mahasiswa rantau. Setiap kali bertemu dengan orang baru di Surabaya, karena logat bicara saya yang berbeda, hampir selalu muncul pertanyaan ini disela-sela obrolan: “Sampean asli mana, Mbak?”. Dan tentu saya jawab bahwa saya asli Tangerang. Lahir dan besar disana, bahkan kedua orangtua saya pun lahir dan besar di kota yang mengusung slogan kota yang berakhlakul karimah itu. Dulu, respon si penanya paling hanya sekedar memonyongkan bibir dan mengeluarkan bunyi “Oooo”. Atau yang agak mengesalkan misalnya mengira bahwa Tangerang itu masuk kedalam Provinsi DKI Jakarta atau Provinsi Jabar. Bagi saya waktu itu, hal itu cukup mengesalkan. Masa iya tidak tahu bahwa Tangerang itu masuk Provinsi Banten? Masa iya tidak tahu bahwa ada satu provinsi di Indonesia yang namanya Banten?

Tapi, time changes everything. Ya, waktu memang bisa mengubah segalanya. Yang dulunya tak “terlalu” dikenal, sekarang sudah dikenal. Bahkan jadi pembicaraan banyak orang. Luar biasa bukan? Hari ini, misalkan. Ketika saya bertemu dengan salah satu pengurus ormas Islam di Jatim untuk pertama kalinya. Lagi, pertanyaan “Sampean asli mana, Mbak?” muncul dan spontan langsung saya jawab “dari Tangerang”. Tebak bagaimana responnya? Beliau serta merta merespon “Oh Banten ya? Gubernurnya Ratu Atut kan?”, dan beliau dengan antusias mulai menyampaikan pendapatnya tentang dinasti politik keluarga gubernur Banten dan kebingungannya kok bisa satu keluarga itu menguasai pos-pos penting dalam sistem politik di Banten. Pada hari yang sama pula, saya mendapat pertanyaan yang sama dari orang yang baru saya kenal. Responnya pun sama, “Ooh Tangerang. Anak buahnya Atut berarti.” Dududuuuhh ngga banget deh disebut anak buah Atut, batin saya spontan.

Jujur, saya malu luar biasa hari ini. Kalau dulu saya biasa ngamuk-ngamuk sendiri ketika ada orang yang tidak tahu Banten, sekarang malah saya malu karena banyak orang yang tahu tentang Banten. Kenapa malu? Lha wong yang bikin terkenal justru kasus suapnya dan dinasti politik keluarganya, bukan prestasi daerahnya. Siapa sih yang bangga kalau daerahnya terkenal karena sensasi bukan prestasi?

Pertama kali membaca kasus Wawan dari media online, saya cukup kaget dengan temuan mobil mewah milik Wawan ini. 11 mobil mewah! 11 mobil mewah! Lamborghini, Alphard, Ferrari, masuk semua! Apa-apaan ini? Mereka itu kan wakil rakyat. Okelah, Wawan memang tidak memegang jabatan eksekutif. Tapi istrinya kan walikota Tangerang Selatan, kakaknya Gubernur Banten, saudara-saudara yang lain bahkan ibu tirinya pun memegang jabatan eksekutif. Mereka itu wakil rakyat kan? Yang memperjuangkan hak-hak rakyat? Lha, kok malah sibuk beli mobil mewah sih? Kok sama sekali tidak malu ya ketika keluar rumah sambil bawa Lamborghini? Kalau rakyat Banten sudah sanggup beli Lamborghini seperti beli kacang goreng sih, ya okelah tak perlu malu mungkin ya. Tapi kan faktanya rakyat Banten masih ada yang miskin.

Gandung memperinci beberapa kondisi dari berbagai data riset yang dia terima. Kemiskinan Provinsi Banten masih tertinggi secara nasional karena mencapai 800 ribuan jiwa. Temuan ini sangat kontras jika dibandingkan pada saat ini APBD-nya nyaris mencapai Rp 5 triliun. Jauh berbeda dengan pada saat provinsi ini berdiri, yang hanya mengantongi pendapatan sebanyak Rp 400 miliar.

Menurut dia, peningkatan APBD Banten ini sangatlah luar biasa. Namun, nyaris tidak ada artinya jika mengingat angka pengangguran yang tak kunjung turun dari 30 persen. Angka ini juga tergolong tertinggi menurut skala nasional. Belum lagi, angka kematian bayi dan ibu hami yang masih tinggi, yaitu 32 persen. “Ini sepadan dengan Provinsi Sulawesi Barat dan Papua Barat. Levelnya sama untuk angka kematian bayi dan ibu hamil,” katanya. (lengkapnya bisa dilihat disini http://www.tempo.co/read/news/2013/10/05/063519354/Pengamat-Gubernur-Atut-Tidak-Membangun-Banten)

Ini bukan kondisi yang normal. Keluarga pejabat bisa seenaknya membeli mobil mewah tapi masih ada rakyat yang melarat. Sewaktu pemilu koar-koar mau membangun rakyat tapi buktinya masih banyak aspek pembangunan yang belum tersentuh. Bagaimana mau memperjuangkan hak rakyat notabene banyak dari kelas bawah kalau setiap akhir pekan sibuk bergaya dengan Ferrari atau Lamborghininya? Bagaimana mau menghayati kesulitan rakyat kelas bawah kalau sehari-hari bergaul dengan kemewahan? Ini jadi PR buat semua wakil rakyat, tak usah pamer kekayaan dan jangan jadikan jabatan politik sebagai lahan basah untuk cari uang. Kalau mau kaya, ya jadi pengusaha saja. Jangan jadi politisi yang teriak-teriak dengan topeng palsu mau membela rakyat, tapi malah mengeruk uang rakyat tanpa belas kasihan.

Dan ya, satu pembelajaran politik lagi untuk rakyat Banten khususnya (termasuk saya berarti). Sudah ngga jaman yang dijadikan pemimpin itu yang bergelar Jawara atau mereka keturunan Jawara. Kenapa memang? Lha wong gubernur, walikota, atau bupati tugasnya bukan tarung dengan bandit pakai golok kok. Kita ini butuh pemimpin yang bisa membangun daerah. Yang bisa bikin masyarakatnya jadi lebih sejahtera. Mungkin sudah banyak rakyat Banten yang sudah melepaskan paradigma ini, sudah memilih pemimpin berdasarkan kemampuan si kandidat dalam membangun daerah. Tapi rasanya masih ada satu-dua orang yang senang memilih Jawara tanpa melihat kemampuan membangun daerahnya bagaimana. Yang sudah-sudah mari kita jadikan pembelajaran. Ayo sama-sama belajar jadi pemilih yang rasional dan juga belajar jadi rakyat yang ikut berpartisipasi aktif memantau kinerja wakil rakyat. Untuk Banten yang lebih baik kedepannya, supaya dikenal karena prestasi bukan sensasi.


Selamat Malam, Salam Perubahan… :)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lolo Sianipar, Sukses Menjalankan Bisnis …

Erri Subakti | | 23 October 2014 | 19:54

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Gesture …

Pm Susbandono | | 23 October 2014 | 19:05

Catatan Yayat: Remote Control Traveller …

Kompasiana | | 23 October 2014 | 20:42


TRENDING ARTICLES

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 6 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 9 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 9 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Wih, Sekarang Abdi Rakyat Bakalan Keteteran …

Ridha Harwan | 9 jam lalu

Antara Aku, Kompasiana dan Keindahan …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu

Sejarah Qatar, Juara Piala Asia U-19! …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Makna Kegagalan …

Hanif Amin | 10 jam lalu

Ketika Islam Dianaktirikan Penganutnya …

Anni Muhammad | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: