Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Opa Jappy

m.kompasiana http://m.kompasiana.com/user/profile/jappy

Bandung Akan Miliki Peradaban Baru

OPINI | 06 October 2013 | 12:18 Dibaca: 3036   Komentar: 14   1

13810331732118944613

Walikota Bandung (yang baru), Ridwan Kamil, memang luar biasa; di media sosial, banyak orang membandingkan dirinya dengan Jokowi, ketika masih menjadi Walikota Solo. Ada banyak hal baru yang yang (akan) dikerjakan oleh Ridwan Kamil.

Tentu saja sepak kerja - sepak terjang Walikota yang satu ini, demi masyarakat Bandung, yang beberapa tahun lalu, beberapa kalangan mengatakan bahwa Bandung (akan menuju) menjadi metropolitan, bersama Surabaya, Medan, Makassar. Jika prediksi itu benar, maka akan muncul istilah baru yaitu Bandung Metropolitan - Metropolitan Bandung

Prediksi para pakar tentang Bandung masa depan itu tentu saja tak salah; jika melihat perkembangan, pengembangan, dan pembangunan Kodya Bandung, maka cepat atau lambat, akan tercipta Bandung Metropolitan - Metropolitan Bandung.

Siapa pun tak bisa menyangkal tentang sikon gemerlapan Bandung. Sejak lama, Bandung telah terkenal kebebasan - keberanian mode berpakaian/busana, kuliner, atau pun tampilan diri yang aduhai; konsumerisme di Bandung pun tak kalah galak jika dibandingkan dengan Jakarta. Geliat kehidupan dunia gemerlapan malam di Bandung mungkin hanya beda-beda tipis dengan Jakarta. Dan masih banyak yang lainnya.

Hal-hal di atas ketika Bandung belum menjadi Bandung Metropolitan, apalagi jika telah Metropolitan Bandung; maka akan terjadi banyak hal yang tak terduga sebelumnya.

Melihat hal-hal tersebut, Walikota Bandung, ingin membangun dengan peradaban yang baru (lihat suplemen); yang mungkin saja, kita belum tahu bentuk-bentuknya seperti apa. Suatu  upaya yang mungkin saja bisa me-rem pengaruh modernisasi atau pun gaya hidup metropolitan lainnya.

Mungkin saja, peradaban baru di Bandung akan menjadikan

1. Saritem ditutup

13810352651220250499

2. Meniadakan Pekerja Seks Anak/remaja di Bandung.

Temuan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat, 28% pekerja seks anak/remaja di Bandung Raya adalah pelajar aktif atau masih bersekolah; para remaja yang terjerumus perilaku negatif ini masih bersekolah seperti pelajar pada umumnya. Pihak sekolah, bahkan orangtua mereka, mungkin tidak tahu aktivitas anak mereka di luar. Ironisnya, perilaku mereka dipicu antara lain oleh gaya hidup.

Ada pergeseran dalam lingkungan. Gaya hidup jadi berubah. Hanya karena ingin bisa nongkrong di kafe elite, jajan di kafe elite, mereka seperti itu (jadi pekerja seks). Bahkan, ada yang ingin handphone bagus, lalu janjian di luar sekolah. Kelompok tersebut sudah memiliki jaringan. Selain ada orang dewasa yang mengatur, aktivitas mereka juga dikendalikan oleh teman sendiri dengan memanfaatkan ponsel.

….

Dari temuan itu, diketahui ada yang masih berusia 13 tahun yang berarti mereka masih bisa disebut anak-anak karena masih duduk di bangku SMP. Kebanyakan mereka berusia di bawah 18 tahun. Pada masa inilah sedang terjadi transisi atau peralihan dari anak-anak ke remaja. [sumber: kompas.com]

3. Tata Kota dan Lalu lintas kota yang tidak lagi gelap gulita di banyak tempat; no macet (walau kebanyakan sudah satu arah), serta tanpa sampah

4. Anak Sekolahan tak lagi berkeliaran di Mall-mall pada jam sekolah/belajar

5. Bisa jadi, tak ada lagi Orang Bandung di jalan, mall, tempat-tempat umum lainnya dengan pakaian yang berani mode; mereka akan lebih tertutup dan agamis

6. Tak ada lagi kegiatan-kegiatan yang bersifat intoleransi; termasuk cabut izin tempat ibadah, melaraang kegiatan kegamaan, ataupun menyerbu serta merusak distro yang menjual kaos, celana, lambang-lambang yang di tuduhh sebagai menyebar kesesatan.

7. Tentu masih banyak lagi yang lain

Karena yang disebut oleh Walikota Bandung masih dalam bentuk gagasan, belum terwujud, serta belum ada tanda-tandanya, maka mari kita menunggu unsur-unsur peradaban baru itu.

Mungkin saja Peradaban Baru itu bisa berdampingan dengan serbuan gaya hidup Metropolis, atau bahkan tenggelam karena kalah persaingan.  Atau, hal-hal yang (nantinya) disebut peradaban baru itu, justru akan membuat Bandung seperti (misalnya) di NAD, wilayah kekuasaan Taliban di Afghanistan, dan pada belahan dunia antah berantah lainnya.

Jadi, kita tunggu sajalah ….

13810322101594371064

doc pkssumut.or.id/muslimina.blogspot.ca

SUPLEMEN:

Ini isi Pidato walikota Bandung Ridwan Kamil:

Saya ingin memimpin seperti rasulullah memimpin, bagaimana masyarakat dapat menasihati, memberi masukan, juga bertemu bersama. kita akan adakan pertemuan rutin.

Saya wajibkan semua camat keliling sholat Jumat. keliling di wilayahnya, agar rakyat mengenal dan bisa saling memberi masukan setelah shalat jumat. Saya sudah instruksikan dinas pendidikan agar siswa memiliki absen. Ada dua absen, absen masuk dan absen shalat berjamaah.

Saya ingin Bandung kuat dengan ukhuwahnya. Kita bisa kalahkan jakarta. Tiap mengawali aktivitas di balaikiota saya mulai dengan lagu indonesia raya dan diakhiri dengan doa. Jadi, tiap kepala dinas kudu bisa ngadoa, akan ada pembinaan juga tiap dinas.

Saya punya ide membangun peradaban Islam lewat mesjid. Saya sudah kumpulkan tim. Tiap mesjid akan ada wifi juga jaringan internet. Jadi, anak-anak gemar ke mesjid. Anak-anak sekarang sudah jauh moralnya, kita harus dekatkan dengan mesjid. Saya ingin ada Forum Masjid Bandung juara. Kita bangun peradaban Islam dr 4000 an mesjid di Bandung. Mesjid yg hijau, melek teknologi, bersih.

Yuk kita buat Bandung juara untuk peradaban Islam melalui Mesjid.

13810587241757900138

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Promosi Multikultur ala Australia …

Ahmad Syam | | 18 April 2014 | 16:29

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Liburan Paskah, Yuk Lihat Gereja Tua di …

Mawan Sidarta | | 18 April 2014 | 14:14

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 8 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 9 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 12 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: