Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Fat Haryanto Lisda

nama : fat haryanto lisda, S.Sos Twitter : @fatharyanto email: fat.haryanto@gmail.com

Riau Masih Indonesia? Surat untuk Presiden SBY

REP | 10 March 2014 | 00:20 Dibaca: 915   Komentar: 0   0

Riau, sebuah propinsi yang memiliki ribuah hektar perkebunan kelapa sawit. Disana juga terdapat perusahaan minyak dunia, Chevron. ya jika hal itu yang dimulai pasti terkesan riau itu negeri kaya, riau itu masyarakatnya sejahtera. hmmm. amiin . Semoga hal tersebut terwujud dalam waktu dekat.

Malam ini sengaja kutuliskan surat terbuka untuk sang presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau yang lebih akrab di sapa pak SBY yang juga ketua umum partai demokrtat. Kami menyadari, pemilu gubernur di riau tidak di menangkan oleh partai demokrat, dan pemenangnya adalah partai golkar, meskipun begitu bukan itu hal yang ingin saya sampaikan kepada yang terhormat pak presiden.

Riau memang bukanlah propinsi yang memiliki lumbung suara terbanyak di republik ini, namun satu hal yang perlu di catat oleh pak presiden adalah riau masih indonesia. Bencana asap yang melanda propinsi riau saat ini sungguh membuatku merasa gerah dan gelisah, meski pun diriku saat ini tidak sedang berada di riau.

berbagai pemberitaan di media online, media sosial hampir seluruhnya mengatakan bahwa kondisi asap di riau sudah membuat banyak masyarakat diserang penyakit. bukan hanya itu pak SBY, pendidikan anak-anak di bumi melayu itu sekarang tertanggu karena harus diliburkan melihat kondisi asap yang begitu tebal hingga menyebabkan udaranya sangat tidak baik.

mungkin bapak saat ini sedang asik di ruangan ber-ac, di temani buku-buku dan sebagainya. mungkin bapak saat ini sedang asik menghirup udara tanpa harus khawatir menghirup serta racun dari asap dari dibakarnya lahan di riau.kami mendo’akan bapak tidak mengalami apa yang kami sedang alami ini.

pak SBY sang presiden, kami sadar minyak kami, SDA kami, telah banyak di ikhlaskan untuk republik ini, kami juga tidak meminta balas budi dari itu semua. namun bagi kami orang melayu, ada sebuah etika sopan santun yang kami junjung tinggi. kami orang yang mengerti bagaimana memperlakukan orang yang telah berbuat baik kepada kami.

pak SBY sang presiden, kondisi asap beracun yang kami hirup yang sangat tidak baik untuk kesehatan generasi muda, dan juga sangat tidak baik bagi kehidupan haraplah bapak perhatikan. luangkanlah perhatian bapak dari partai sejenak. luangkanlah perhatian bapak sejenak untuk menginstruksikan, hanya menginstruksikan para pembantu-pembantu anda di pusat untuk membantu rakyat riau.

pak SBY sang presiden, mungkin kami tidak berarti apa-apa di mata seorang pak SBY, sama halnya sebelumnya dengan gunung sinabung yang masih di sumatra. setelah berbulan-bulan para pengungsi tidak mendapat perhatian dari pemerintah pusat meski pada akhirnya datang kesana setelah bertubi-tubi di beritakan, sesama anak sumatra saya ucapkan terimakasih. kami pun tahu, disana bukanlah lumbung suara dan pulau kami memang harus menyebrangi pulau jawa untuk sampai kesana.

pak SBY sang presiden, hari demi hari dilalui oleh anak-anak sekolah dengan menghirup udara beracun. hari demi hari kami di cekoki oleh racun-racun akibat di bakarnya hutan kami. kami hanya di berikan racun dari asap-asap itu, dan keuntungannya tidak di nikmati oleh masyarakat kami.

pak SBY sang presiden, aku sungguh gelisah melihat kondisi cuaca di propinsiku. sudah berapa kali pemerintah propinsi mengirimkan bom air, sudah berapa dana di habiskan untuk itu, masih tebal asap di riau.

pak SBY sang presiden, aku hanya bisa menuliskan ini, karena aku sangat gelisah dengan kondisi negeriku, negeri melayu riau.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Optimistis Melihat Produk Lokal dari Pasar …

Asri Alfa | | 22 October 2014 | 19:36

Happy Birthday Kompasiana …

Syukri Muhammad Syu... | | 22 October 2014 | 18:24

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Ngaku Kompasianer Langsung Diterima Kerja …

Novaly Rushans | | 22 October 2014 | 07:36

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 13 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 13 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 13 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 14 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Bidan Desa Tak Peduli, Nyawa Bayi …

Yohana Damayanti Ma... | 8 jam lalu

Judge …

Ayu Syahbana Surbak... | 8 jam lalu

Memilih Makanan Halal di Eropa …

Aries Setya | 8 jam lalu

Amplas …

Katedrarajawen | 9 jam lalu

Obama Dream atau Obama Nightmare ? …

Andi Firmansyah | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: